Kata-kata bijak bilang bahwa kita baru akan tahu arti dari sesuatu jika sesuatu itu hilang atau pergi dari kita. Dari hal yang paling sederhana, seperti barang yang kita miliki, sampai orang-orang yang kita sayangi dalam hidup ini. Baik itu perpisahan yang singkat, apalagi yang selama-lamanya. Barangkali klise, tapi memang benar adanya. Namun kita juga sepakat bahwa setiap perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sesuatu yang baru.
Perasaan ini muncul ketika saya harus melepas pergi dua orang subjek dari Automatic Love. Kalau dalam berkendaraan ada dua jenis mesin, yaitu manual dan automatic. Dalam mencintai juga saya yakin ada dua hal ini, otomatis adalah cinta yang tanpa harus diset atau diperintah tetapi sudah ada dengan sendirinya. Dengan lahirnya kita dari rahim yang sama, dengan pembuah yang sama, terprogramlah sudah kalau kita harus mencintai satu sama lain. Keluarga.
Satu tahun tinggal jauh dari mereka, yang sudah hidup bersama saya selama umur saya dikurangi satu, adalah tantangan maha berat. Banyak hal yang wajar menjadi tidak wajar, dan timbul pertanyaan kemudian, sebenanarnya apa itu wajar? Jika tidak bertemu mereka saat saya bekerja, perasaan itu kandas. Perasaan yang ada hanyalah rindu yang manis dan pikiran sibuk membuat rencana ketika perjumpaan terjadi kelak. Tapi perasaan ini adalah yang muncul ketika sudah lama tidak bertemu, lalu bertemu sebentar, terbiasa bersama dan harus berpisah cepat.
Sedih memikirkan apakah mereka bahagia selama selang waktu singkat lalu bersama saya. Sedih membayangkan mereka juga sedih berpisah dengan saya pada satu lambaian lemas di airport tadi pagi. Sedih melihat punggung mereka menghilang dari kejauhan dengan perasaan khawatir, kapankan kita akan bertemu lagi, dan mungkinkah suatu saat kita kembali wajar? Bersama setiap hari, bangun dari atap yang sama, makan dari hasil karya orang favorit yang sama, bertengkar, bercengkrama, berdebat, berkomentar pedas, saling membenci dan kembali saling memaafkan dan mencintai tanpa pilihan.
Misteri adalah perasaan ini. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan hubungan sekuat ini? Tali keluarga yang imajiner namun tak terpisahkan dengan apapun. Bahkan maut tak mampu merubah apapun. Merekalah orang-orang yang terlihat tidak perduli namun tidak bisa tidur nyenyak ketika kita menghadapi masalah. Merekalah orang-orang yang tanpa diberi tahu, akan tahu perasaan kita hanya dengan tatapan mata atau nada suara, bahkan dalam ribuan atau ratusan mil jarak yang memisahkan.
Kadang kita lupa, seringkali tidak peduli, yang mereka butuhkan bukan materi atau kemewahan yang selalu kita klaim jadi alasan sulitnya pertemuan. Mereka hanya ingin kebersamaan, dan perasaan campur aduk standar yang selalu dirasakan saat kita ada diantara satu sama lain. Kita adalah bagian dari mereka, maka kitapun merasakan hal yang sama. Yang kita inginkan dan rasakan, persis seperti yang mereka inginkan dan rasakan juga. Sederhana saja. Keberadaan.
Pernahkah kita pikirkan, berapa banyak lagi waktu yang kita punya di dunia? Pernahkah kita mencoba memprosentasekan alokasi waktu yang kita habiskan untuk mereka dan pekerjaan, serta segudang rencana mewujudkan mimpi-mimpi yang tiada ujungnya? Atau hanya berkumpul dengan manusia-manusia baru dalam hidup kita bernama teman, sahabat, pacar – yang baru mengenal kita beberapa saat saja—yang mendadak selalu jadi lebih penting dibandingkan mereka. Sudah adilkah kita?
Jika keadilan itu hanya milik Tuhan, benar adanya. Jika membagi waktu untuk diri sendiri saja sulit, juga tidak bisa dibantah. Toh pun saya yakin seratus persen kalau mereka tidak pernah menuntut keadilan, termasuk saya, dan kita, yang menjadi bagian dari mereka. Dan mereka ini adalah orang-orang yang tidak pernah dan tidak akan pernah merasa terancam dengan kesuksesan kita. Mereka adalah orang-orang yang selalu bahagia mendengar kabar baik dari kita, dan bersedih menyaksikan kita terpuruk. Selalu. Bahkan tanpa kita tahu.
Beruntunglah atau kurang beruntung mereka yang selalu bersama sejak dimulainya kehidupan sampai saat ini, atau sampai kehidupan itu mencapai akhir. Beruntung karena orang-orang ini selalu merasakan wajar. Kurang beruntung karena adanya keniscayaan wajar, orang-orang ini tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan sekarang. Tidak pernah tahu betapa pentingnya mereka, sampai ada kehilangan.
Bukan tantangan kalau itu mudah. Pilihan hidup yang saya jalani, juga banyak orang diluar sana yang memilih jalan yang sama, adalah tidak wajar bagi kebanyakan orang di budaya kita. Budaya yang membesarkan saya dan leluhur saya. Budaya yang membentuk pola pikir saya. Budaya yang membentengi saya dan sekaligus membebaskan saya pada akhirnya setelah tahu dan mengenal kaedahnya atas perenungan saya sendiri. Atas apa yang saya alami, dengar dan rasakan sendiri. Budaya yang memberikan saya segudang pertanyaan sejak kecil sampai detik ini, tak terjawab dan tidak perlu dijawab oleh siapapun. Begitu adanya. Hormati dengan maksimal.
Mereka adalah orang-orang yang menjadi Top Priority dalam budaya kita. Selalu dikumpulkan bersama sejak kecil, menjadi satu tanpa batasan jenis kelamin atau usia atau apapun. Berlawanan dengan budaya yang dianut di belahan bumi lainnya, yang sejak kecil selalu dididik untuk mandiri dan tidak saling bergantung pada satu sama lain. Tapi satu hal yang sama, kita diajari untuk saling melindungi, lagi-lagi tanpa pilihan. Dan ke-otomatisan itu tercipta dengan sendirinya. Tanpa akhir.
Suatu saat, kita akan meneruskan tali Automatic Love ini pada keluarga kita. Pada anak-anak yang kita akan lahirkan kelak, Inshallah. Bagaimana cara kita mendidiknya, adalah pilihan. Tapi ikatan itu tidak akan pernah bisa dipalsukan. Ironisnya, suatu saat nanti, kita akan melupakan tali yang mengikat kita sebelum kita menciptakan ikatan baru. Inilah kehidupan.
Namun suatu saat yang belum terjadi itu, biarlah berjalan dengan sendirinya, dengan alami. Saat ini, yang kita sedang jalani adalah hadiah. Seperti peribahasa, “yesterday is a past, tomorrow is a future, and today is a present”. Pentingnya masa depan dan berharganya masa lalu, tidak perlu menggeser keindahan dari hari ini. Live the life (of now) to the fullest.
Entah berapa lama lagi kita akan bersama-sama dengan mereka seperti dalam sebuah keluarga yang utuh. Bersyukurlah bagi kita yang pernah main sepeda bersama, memanjat pohon bersama, berpeluh keringat dikejar anjing tetangga, atau bolos pengajian bersama. Bersyukurlah kita yang pernah saling melindungi di depan orang tua kita, saling meminjamkan uang atau pakaian (lalu lupa mengembalikan sampai sekarang), saling menjemput di kala hujan dan lelah (karena tidak tega, dipaksa Mama atau naksir temannya). Bersyukurlah kita yang pernah merasakan getirnya hidup bersama dengan lampu cempor sebelum ada listrik di rumah, tidur jam delapan malam karena hanya ada siaran TVRI di televisi, menangis terkena jepretan sapu lidi Papa, dan mengutuk maling sepeda. Bersyukurlah kita yang dilahirkan dari keluarga yang sama (guess it was a luck), mengeluhkan peraturan konyol bersama yang baru kita tahu bagusnya sekarang, dan dimahari karena bill telepon yang meledak (waktu belum punya hape, apalagi bebe).
Bersyukurlah kita yang pada akhirnya bisa mandiri dari didikan yang sama, berjuang masing-masing untuk tujuan yang serupa tapi tak sama, dan berpencar menggapai mimpi yang berbeda tanpa sedetikpun berhenti saling mendoakan. Alhamdulilah..
Akhirnya, tulisan ini saya buat bukan untuk menggurui apalagi menjustifikasi. Hanya sebagai bahan perenungan diri di hari Minggu yang lumayan mendung.
Dubai, 4 September 2011
(Untuk Abang, Caca dan Ade, kakak dan adik-adikku. Serta untuk Mama dan Papa, orang tua yang melahirkan dan membesarkan kami)
No comments:
Post a Comment