Pernahkah Anda merasa bahwa otak kita tidak pernah berhenti berpikir? Bahkan ketika tidurpun, dia tetap bekerja. Pernahkah Anda tersadar dalam mimpi, tahu bahwa itu mimpi namun tidak bisa menggerakkan apapun, membangunkan diri sendiri saja sulit. Seperti dalam film Interception. Terlebih lagi ketika kita sedang menghadapi masalah. Rasanya seluruh dunia mendukung kita untuk terus-terusan teringat dan memikirkan apa yang sedang kita alami.
Saya adalah orang yang tidak pernah dan tidak suka lari dari masalah. Saya tidak pernah dan tidak suka lari dari apapun kecuali kejaran anjing tetangga. Sesulit dan serumit apapun masalah yang ada, saya hadapi. Dari soal kalkulus yang memusingkan kepala tujuh keliling, sampai masalah perasaan dan percintaan saya dan juga orang lain yang kadang melibatkan saya. Saya percaya satu-satunya cara menyelesaikan maslah adalah dengan menghadapinya.
Tapi pernahkah Anda merasa ingin satu kali saja merubah satu hal yang menjadi kebiasaan? Dengan fakta kehidupan ini yang sangat dinamis, saya rasa setiap manusia pernah mengalaminya. Selalu ada pengecualian. Exception.
Bukan berarti kita melanggar janji, komitmen, ataupun kepercayaan yang selama ini terkukuh di kepala kita. Tapi karena kita hanyalah manusia biasa yang mempunyai batasan. Batasan untuk tidak selalu berbuat baik terhadap dunia. Batasan untuk tidak selalu keras pada diri sendiri. Batasan untuk berhenti mencoba untuk selalu mengerti pikiran dan perasaan orang lain. Batasan untuk menjadi egois. Satu kali saja. Pasti Anda pernah merasakannya.
Seperti memberikan jawaban salah pada teman saat ujian, berkata tidak tahu padahal Anda tahu jawabannya, supaya nilai dia tidak lebih baik dari kita. Seperti tidak menyampaikan surat cinta sahabat untuk kecengannya, karena Anda juga menyukainya. Seperti absen dari acara keluarga karena ingin pacaran, dengan alasan urusan kuliah atau pekerjaan. Tujuannya hanya satu, menjadi egois. Secara tidak sadar kita menutupi sesuatu untuk mencapai tujuan kita sendiri. Tanpa ada yang tau. Dan ketika itu kita tidak perduli karena dalam pikiran kita hal itu tidak salah. Kita yakin hal itu tidak akan menyakiti siapapun jika orang yang bersangkutan tidak tau. Lalu hadirlah istilah kebohongan yang baik atau white lies. Do you believe in white lies? I do.
Tidaklah hal ini menjadikan manusia yang lebih baik dari orang yang menganut aliran kebalikannya, ugly truth believers. Buat mereka seburuk apapun kenyataan adalah fakta, jadi harus dihadapi. Betul, saya setuju. Namun sesuatu yang buruk selalu bisa dibuat sedikit lebih bagus sehingga proporsi sakit hati dapat berkurang. Dan, well.. lagi-lagi saya bilang kalau kedua aliran ini tercipta juga dipengaruhi oleh budaya. Orang Timur selalu terlihat sopan dan introvert, takut menyinggung orang lain dan penuh pertimbangan dalam berkata-kata. Bahkan kita punya tingkatan dalam menyapa, ada perbedaan dalam berkomunikasi dengan teman sebaya, teman kantor, atasan, dan orang tua atau keluarga. Sementara dalam budaya Barat kebalikannya, semua adalah sejajar, satu level. Mereka hanya punya satu I untuk menyatakan diri sendiri, sementara kita punya Saya, Aku, Gue. Mereka memanggil temannya You juga orang tuanya dengan istilah yang sama, sementara kita tidak akan pernah berkata Kamu pada orang tua kita.
Lagi-lagi tidak ada yang salah dengan keduanya. Cuma hal ini memang berpengaruh dalam menciptakan stigma White Lies dan Ugly Truth dalam keseharian kita. Saya tentu bicara secara keseluruhan, tidak semua orang di Timur seperti itu, begitupun tidan semua orang di Barat seperti itu. Saya pun tidak menggugat mana yang lebih baik menurut saya. Hanya mengakui kalau saya percaya white lies, dan sangat jarang memberitakan ugly truth.
Bagi saya, ini juga ada hubungannya dengan kebiasaan saya yang selalu memikirkan perasaan orang lain sebelum perasaan saya sendiri. Saya merasa kurang egois. Atau justru kelewat egois, karena bisa-bisanya saya tidak merasa egois dengan memiliki pemikiran seperti ini.
Dalam pikiran (egois) saya, saya selalu berbuat baik dalam hidup ini. Berbuat lebih baik bagi orang lain yang seringkali memanfaatkan kebaikan saya, tapi saya pura-pura tidak tahu dan akhirnya mengabaikan saja. Selama hidup saya, saya selalu berusaha untuk mengerti orang lain. Saya yakin effort yang saya lakukan untuk memahami orang lain jauh lebih besar dari usaha orang lain untuk mengerti saya. Faktanya, sulit sekali bagi saya untuk berkesempatan bertemu dengan orang yang bisa memahami saya mendekati sepenuhnya. Saya tidak menyalahkan orang lain yang tidak mau, atau kurang mau memahami saya. Hanya seringkali saya menyesalkan kenapa demikian. Apakah mungkin saya yang tidak normal?
Mungkinkah saya yang tidak normal karena punya perasaan dan pemikiran seperti ini? See, lagi-lagi saya menyalahkan diri sendiri, dan berusaha mengerti alasan orang lain.
Saya lelah. Saya ingin egois kali ini.
Saya ingin tidak peduli dengan orang lain dan perasaan mereka.
Saya ingin berlari.
Saya yakin ini tidak akan lama dan saya akan segera kembali menjadi saya, yang saking egoisnya menjadi sok tahu dan mengorbankan perasaan sendiri demi orang lain yang katanya lebih menyayangi saya dibandingkan diri saya sendiri.
Saya ingin menutup hati dan telinga. Saat ini saja.
Saya ingin berdiam ketika ada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Karena seumur hidup saya selalu mengatakan hal yang ingin orang-orang dengar, tetapi jarang mendengar hal yang ingin saya dengar.
Saya ingin mendengar kebenaran yang brutal dari dalam diri sendiri dan mempercayai sepenuh hati. Tanpa keraguan, tanpa pertanyaan yang membantu saya memahami dunia untuk menggagalkan opini hati.
Saya ingin menjadi kecuali, tanpa terkecuali.
Dusseldorf, 9 September 2011
| Rein River, Dusseldorf, Germany |
No comments:
Post a Comment