Sunday, September 11, 2011

Fate or Artificial Beliefs


(Sebuah tulisan lama)
Ini bukan kali pertama saya “kemakan omongan”. Atau mungkin kenyataan yang mempermainkan saya dengan fasihnya. Selalu –atau seringnya- di saat saya berikrar dalam hati, bahkan mengucapkannya di depan saksi yaitu teman-teman saya, hal yang diikrarkan terjadi. Long time ago, saya dikecewakan oleh sahabat sendiri, yang diam-diam ada affair dengan mantan pacar yang masih saya sayangi. Detik ketika saya mengetahuinya, hati saya hancur, tentu saja. Tetapi seperti ada kekuatan yang mendorong saya untuk move on. Hal kecil pertama yang saya lakukan adalah menghapus kontaknya di handphone, saya anggap itulah tahap pertama untuk bisa melupakan seseorang. Berusaha untuk tidak memikirkan apalagi menghubunginya. Keesokan harinya, mantan pacar menghubungi saya dan meminta saya untuk kembali, dan dia memutuskan pacarnya yang adalah sahabat saya sendiri, untuk kembali pada saya. Padahal ketika itu saya sudah bertekad untuk move on dan saya yakin saya bisa. Perasaan memang tidak bisa dibohongi, for the sake of love saya kembali padanya, dan berhenti bicara dengan sahabat saya selama dua tahun.

Beberapa tahun berikutnya, dalam perjalanan ke Sao Paolo, saya terbang dengan crew yang berasal dari Brazil. Entah mengapa saya selalu mengagumi orang-orang Brazil yang bukan saja cantik dan ganteng, mereka sungguh berperangai baik dan ramah. Tidak perlu waktu lama untuk saya bisa beradaptasi dan berteman dengan mereka. Sesampainya di Sao Paulo, saya dan seorang teman berjalan-jalan mengelilingi kota dan singgah di taman seperti Kebun Raya Bogor yang bernama Ibirapuera Park. Sungguh pemandangannya membuat saya drooling. Bukan karena tamannya saja, tetapi orang-orang yang beraktifitas di dalamnya. Mereka sungguh unik, karena banyak dari Brazilian berdarah campuran. Suatu ketika saya pernah bertemu dengan orang yang terlihat sangat Jepang, dengan mata sipit dan kulit putih, tetapi dia tidak bisa berbahasa Jepang, dan diakuinya kalau dia adalah Brazilian. Seorang teman juga pernah bercerita kalau sahabatnya Brazilian dengan kulit hitam, rambut cokelat dan mata biru. Bisa dibayangkan betapa cantiknya. Dalam hati saya bicara sendiri, someday I want to date a Brazilian. And voila! Beberapa bulan setelah itu, saya kencan dengan seorang Brazilian yang tampan, campuran Spanyol-Brazil. Meskipun tidak bertahan lama, tetapi tetap hal ini kadang membuat saya tertawa dalam hati. Be careful with what you wish for.

Poin saya adalah, terkadang apa yang kita percayai tanpa sengaja melembaga menjadi hal yang kita anggap takdir, padahal mungkin saya itu bukan semata takdir, tetapi sugesti buatan pikiran kita sendiri. Yah, kita manusia memang selalu trying to make sense of things, di sisi lain kita juga sibuk menutup mata dari kenyataan dan memilih hidup dalam angan-angan kita, artificial beliefs. Seperti perempuan yang rela dipukuli pasangannya, dia selalu mencari-cari alasan indah demi untuk terus bertahan dengan pasangannya, meskipun sudah disakiti berkali-kali tetapi tetap rela memperjuangkan hubungan karena artificial belief-nya adalah laki-laki itu hanya emosi dan deep down inside his heart he loves her so much.

Dan yang saya rasakan sekarang mungkin juga hal yang sama, meskipun saya berharap itu takdir. Dalam arti kata, hal yang sudah seharusnya terjadi, maka terjadilah. Seperti salju yang sedang turun dengan lebatnya di langit Zurich hari ini. Nikmatnya menonton pertunjukan alam gratis, rintikan salju yang bertabrakan dan saling mendahului untuk menyentuh tanah, sama halnya seperti perasaan saya yang seolah dalam perlombaan tetapi tidak tau menuju apa.

I don’t really give a damn about love lately. Ada saatnya di kala saya takut mati sendiri tanpa orang yang mencintai saya untuk mati bersama. Tetapi banyak hal yang saya lihat dan alami mendewasakan saya, membuat saya semakin kuat untuk menjalani hidup. Life is indeed too good to feel bad. But still, as a human being, yang punya hati dan perasaan, desperation (because of love) is the thing that unbearable.

Saya masih memikirkan orang ini. Back in training college, saya bertemu dia untuk pertama kalinya. Sebelum berkenalan dengan dia, saya sudah merasakannya. I just knew that I will have something with this man. Jujur saja, mata birunya mencuri perhatian saya. Dia adalah kreasi Tuhan yang sempurna. Menarik dan tidak menjemukan, karena tentu saja dia Kaukasian, agak aneh di mata saya. 

Dia juga punya senyuman yang sangat manis. Sebagai penyemangat, from that time I was playing a teenager yang mengagumi dia tanpa orangnya tau. Well, sometimes we need a motivation don’t we? Setidaknya saya tidak mengeluh bangun pagi-pagi untuk berangkat ke training college karena saya tau akan bertemu dia.

Training college adalah masa yang menyenangkan bagi saya. Pekerjaan baru, suasana baru, teman-teman baru, kota baru, budaya baru. Sesuatu yang baru selalu tampak menarik. Setiap hari selama tujuh minggu cabin crew diberikan training untuk bisa siap “terbang”. Dibekali pendidikan Safety and Emergency Procedures, Group Medical Training, Security and Self Defense Techniques, dan terakhir Service. Sebelumnya saya tidak menyangka kalau menjadi seorang cabin crew ternyata sesulit ini.

Pepatah mengatakan “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Sangat benar. Seperti halnya bunglon yang mimikri, di dedaunan dia hijau, di batang pohon dia menjadi cokelat. Adaptasi. Bukan berarti kita harus berubah total dan menjadi orang lain, tetapi cobalah untuk menyesuaikan diri. Untuk itu, sayapun berusaha untuk membaur dengan teman-teman yang sebagian besar berasal dari Eropa. Satu hal yang mereka sukai, di umur sebaya saya, apalagi kalo bukan party. Setiap akhir pekan, mereka berkumpul untuk just hanging out, having some drinks and laughing. Dan kegiatan ini sangat efektif untuk mendekatkan satu sama lain.

Minggu pertama, saya absen. Minggu kedua, masih belum mood. Minggu ketiga, entah kenapa saya ingin datang. Tempat pertemuan kami kala itu adalah Irish Village. Sebuah club yang cozy di dekat Training College. Saya dan beberapa teman dekat pun datang dengan harapan, tentunya bisa have fun dan mingle. Dan itu semua terwujud. Bukan hanya akrab dengan hampir seluruh teman dalam satu batch besar, tetapi malam itu saya bertemu dia. Si tampan mata biru, asal Serbia.

Dia tidak satu kelas dengan saya, tapi kami sudah berkenalan. Seingat saya saat itu, ya. Suatu hari sepulang training, di dalam shuttle bus. Perkenalan basa basi yang saya pun lupa-lupa ingat. Saya juga menyadari beberapa kali kami berpapasan mata dan refleks saling melempar senyum. Tapi kami tidak pernah bicara informal selain masalah materi training. Malam itu, adalah kala pertama kami bicara personal. Dia menghampiri saya dan memberikan kecupan di pipi kiri dan kanan. Yang mengawali semuanya. Kekacauan dalam hidup saya.

Zurich, December 24, 2010

Zurich, Christmas Eve 2010

Saturday, September 10, 2011

The exception


Pernahkah Anda merasa bahwa otak kita tidak pernah berhenti berpikir? Bahkan ketika tidurpun, dia tetap bekerja. Pernahkah Anda tersadar dalam mimpi, tahu bahwa itu mimpi namun tidak bisa menggerakkan apapun, membangunkan diri sendiri saja sulit. Seperti dalam film Interception. Terlebih lagi ketika kita sedang menghadapi masalah. Rasanya seluruh dunia mendukung kita untuk terus-terusan teringat dan memikirkan apa yang sedang kita alami.

Saya adalah orang yang tidak pernah dan tidak suka lari dari masalah. Saya tidak pernah dan tidak suka lari dari apapun kecuali kejaran anjing tetangga. Sesulit dan serumit apapun masalah yang ada, saya hadapi. Dari soal kalkulus yang memusingkan kepala tujuh keliling, sampai masalah perasaan dan percintaan saya dan juga orang lain yang kadang melibatkan saya. Saya percaya satu-satunya cara menyelesaikan maslah adalah dengan menghadapinya.

Tapi pernahkah Anda merasa ingin satu kali saja merubah satu hal yang menjadi kebiasaan? Dengan fakta kehidupan ini yang sangat dinamis, saya rasa setiap manusia pernah mengalaminya. Selalu ada pengecualian. Exception.

Bukan berarti kita melanggar janji, komitmen, ataupun kepercayaan yang selama ini terkukuh di kepala kita. Tapi karena kita hanyalah manusia biasa yang mempunyai batasan. Batasan untuk tidak selalu berbuat baik terhadap dunia. Batasan untuk tidak selalu keras pada diri sendiri. Batasan untuk berhenti mencoba untuk selalu mengerti pikiran dan perasaan orang lain. Batasan untuk menjadi egois. Satu kali saja. Pasti Anda pernah merasakannya.

Seperti memberikan jawaban salah pada teman saat ujian, berkata tidak tahu padahal Anda tahu jawabannya, supaya nilai dia tidak lebih baik dari kita. Seperti tidak menyampaikan surat cinta sahabat untuk kecengannya, karena Anda juga menyukainya. Seperti absen dari acara keluarga karena ingin pacaran, dengan alasan urusan kuliah atau pekerjaan. Tujuannya hanya satu, menjadi egois. Secara tidak sadar kita menutupi sesuatu untuk mencapai tujuan kita sendiri. Tanpa ada yang tau. Dan ketika itu kita tidak perduli karena dalam pikiran kita hal itu tidak salah. Kita yakin hal itu tidak akan menyakiti siapapun jika orang yang bersangkutan tidak tau. Lalu hadirlah istilah kebohongan yang baik atau white lies. Do you believe in white lies? I do.

Tidaklah hal ini menjadikan manusia yang lebih baik dari orang yang menganut aliran kebalikannya, ugly truth believers. Buat mereka seburuk apapun kenyataan adalah fakta, jadi harus dihadapi. Betul, saya setuju. Namun sesuatu yang buruk selalu bisa dibuat sedikit lebih bagus sehingga proporsi sakit hati dapat berkurang. Dan, well.. lagi-lagi saya bilang kalau kedua aliran ini tercipta juga dipengaruhi oleh budaya. Orang Timur selalu terlihat sopan dan introvert, takut menyinggung orang lain dan penuh pertimbangan dalam berkata-kata. Bahkan kita punya tingkatan dalam menyapa, ada perbedaan dalam berkomunikasi dengan teman sebaya, teman kantor, atasan, dan orang tua atau keluarga. Sementara dalam budaya Barat kebalikannya, semua adalah sejajar, satu level. Mereka hanya punya satu I untuk menyatakan diri sendiri, sementara kita punya Saya, Aku, Gue. Mereka memanggil temannya You juga orang tuanya dengan istilah yang sama, sementara kita tidak akan pernah berkata Kamu pada orang tua kita.

Lagi-lagi tidak ada yang salah dengan keduanya. Cuma hal ini memang  berpengaruh dalam menciptakan stigma White Lies dan Ugly Truth dalam keseharian kita. Saya tentu bicara secara keseluruhan, tidak semua orang di Timur seperti itu, begitupun tidan semua orang di Barat seperti itu. Saya pun tidak menggugat mana yang lebih baik menurut saya. Hanya mengakui kalau saya percaya white lies, dan sangat jarang memberitakan ugly truth.

Bagi saya, ini juga ada hubungannya dengan kebiasaan saya yang selalu memikirkan perasaan orang lain sebelum perasaan saya sendiri. Saya merasa kurang egois. Atau justru kelewat egois, karena bisa-bisanya saya tidak merasa egois dengan memiliki pemikiran seperti ini.

Dalam pikiran (egois) saya, saya selalu berbuat baik dalam hidup ini. Berbuat lebih baik bagi orang lain yang seringkali memanfaatkan kebaikan saya, tapi saya pura-pura tidak tahu dan akhirnya mengabaikan saja. Selama hidup saya, saya selalu berusaha untuk mengerti orang lain. Saya yakin effort yang saya lakukan untuk memahami orang lain jauh lebih besar dari usaha orang lain untuk mengerti saya. Faktanya, sulit sekali bagi saya untuk berkesempatan bertemu dengan orang yang bisa memahami saya mendekati sepenuhnya. Saya tidak menyalahkan orang lain yang tidak mau, atau kurang mau memahami saya. Hanya seringkali saya menyesalkan kenapa demikian. Apakah mungkin saya yang tidak normal?

Mungkinkah saya yang tidak normal karena punya perasaan dan pemikiran seperti ini? See, lagi-lagi saya menyalahkan diri sendiri, dan berusaha mengerti alasan orang lain.

Saya lelah. Saya ingin egois kali ini.

Saya ingin tidak peduli dengan orang lain dan perasaan mereka.

Saya ingin berlari.

Saya yakin ini tidak akan lama dan saya akan segera kembali menjadi saya, yang saking egoisnya menjadi sok tahu dan mengorbankan perasaan sendiri demi orang lain yang katanya lebih menyayangi saya dibandingkan diri saya sendiri.

Saya ingin menutup hati dan telinga. Saat ini saja.

Saya ingin berdiam ketika ada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Karena seumur hidup saya selalu mengatakan hal yang ingin orang-orang dengar, tetapi jarang mendengar hal yang ingin saya dengar.
Saya ingin mendengar kebenaran yang brutal dari dalam diri sendiri dan mempercayai sepenuh hati. Tanpa keraguan, tanpa pertanyaan yang membantu saya memahami dunia untuk menggagalkan opini hati.

Saya ingin menjadi kecuali, tanpa terkecuali.

Dusseldorf, 9 September 2011  

Rein River, Dusseldorf, Germany

Sunday, September 4, 2011

Dear My Gorgeous Girls (Relationship)

Today I learned something. I realized that a relationship is not a noun, it’s a verb. Selama ini saya berusaha untuk mengerti apakah itu sebuah hubungan diantara dua orang yang saling menyayangi. In fact, I had an 8 years relationship before, but never know what it was exactly. I will be 25 years old by next month, and now I’m dating a 39 years old guy who is way mature than me. For the first time in my life, I am able to listening to someone. Not only because of he is smart. But also because of he is always give me the reasons and answers to all my doubts and questions. And most of all, I respect him.

Respect. One thing that I could rarely feel for the guys I’ve known before. This is the first time I’m dating an older guy. Before, I believed that age doesn’t really matter in a relationship. That opinion was wrong. It does matter. Saya langsung ingat, mungkin Anda juga ingat, waktu kita masih kecil atau terlebih saat remaja, ada saat dimana kita membenci orang tua kita hanya karena mereka melarang kita untuk bermain dengan seorang teman yang nakal. Atau orang tua kita melarang kita memakai pakaian tertentu, dan memberikan kita jam malam. Ketika itu kita berdalih, Mama atau Papa sangat kolot dan kuno, mereka tidak tau bagaimana cara bersenang-senang, seperti yang tidak pernah muda saja. Lalu beberapa (belas) tahun kemudian kita mengerti mengapa mereka memberlakukan peraturan itu. mengapa mereka selalu berkata, kamu tidak tau apa-apa Nak, kami sudah makan asam-garam. Mereka mungkin bukan lulusan master atau bahkan sarjana, tetapi mereka sudah hidup lebih lama dari kita. Itulah mengapa. Mereka unggul dalam pengalaman.

Sama halnya seperti kita berhubungan dengan pasangan yang lebih tua dari kita. Belum tentu dia lebih pintar dan dewasa dari kita. Namun pasti banyak hal yang bisa kita pelajari dari dia karena pengalamannya. Bukan hal yang dengan sengaja ingin dia ketahui, seperti pelajaran di sekolah, tapi karena alam mendidiknya. So yes, age does matter.

He told me once, you are much younger than me, but I never look down on you. In your shorter time period of live, you have gained things pretty much as much as I have. On the other way around, he respects me as well. Bukan umur saya, tetapi karena apa yang sudah saya dapatkan di umur sekian. Menurutnya, dia berjalan normal selama ini dan saya berlari. Mungkin benar menurut dia, apa yang sudah saya dapatkan (pengalaman) sejauh ini dalam hidup, bukanlah hal yang sewajarnya dialami oleh perempuan sebaya saya. Dengan begitu dia menghormati saya. Usia dalam sebuah hubungan bukalah angka, tetapi pengalaman. Jadi usia itu memang berpengaruh, tetapi selalu ada jalan untuk menjembataninya. Yaitu dengan pengalaman dan pengertian.

Bukanlah hal yang mudah, saya tau. Bukan juga sesuatu yang bisa kita pelajari di buku atau sekolah. So I was clueless, girls. Sejak pertama mengenal dia, saya terus berpikir dan berpikir. Setiap pemikiran diawali dengan, bagaimana kalau.. what if.. what if.. it was exhausting. Then I decided to stop thinking. Just do. Awalnya saya tertarik pada kharisma, perhatian dan kebaikannya. Normal. Semua perempuan pasti akan merasakan hal yang sama jika diperlakukan demikian. The thing is I was so doubtful. Ketika itu saya katakan langsung pada dia, that I am not ready for a relationship. He was cool. He said ok, I don’t want to push you. And that was the correct answer for me. The minute he said that, the more I gave him chances to get to know me. And not only gave him a chance, I gave myself a chance too. I didn’t think that time. Just do it. I let him contacts me every day. Picks me up from work, drops me off to work, and takes me out for dinner, meeting friends, and eventually have a holiday together.

Adalah salah satu liburan terbaik selama hidup saya, ketika kami memutuskan untuk mengunjungi kampung halamannya. Bukan hal yang direncanakan dengan matang, malah sebuah kebetulan yang menyenangkan. Saya berencana untuk mengunjungi teman yang sedang bersekolah di negara yang sama dengan negara asalnya. Dan desa dimana orang tuanya tinggal ternyata dekat dengan tempat tinggal teman saya. Believe me girls, it was serendipity. And it was amazing.
Inilah yang membuat saya merasa tertarik pada sosoknya. Girls, I think I’m in love with his figure. He is such a family man. Dia sangat berbeda dengan dia yang saya kenal di Dubai, kota dimana kami tinggal dengan pekerjaan yang berbeda. Mungkin juga karena Dubai jauh berbeda dengan Deil, sebuah desa yang nyaman dan indah di Belanda, baik alam, gaya hidup, maupun orang-orang yang hidup disana. Saya melihat dia begitu tenang, begitupun saya. Kami mengunjungi teman-teman dan keluarganya. Saya sangat menikmati itu. saya merasa seperti sedang bermain peran. Suatu hari saya bisa menjadi perempuan single yang berjuang untuk hidup, penikmat traveling, dan kali ini saya tiba-tiba berada di tengah-tengah keluarga Belanda-Indonesia yang ramah dan hangat, di sebuah rumah yang indah dengan halaman belakang dan kebun apel yang terbentang luas seolah tak berbatas.

Most of all, I love his daughter. Yes, call me crazy, girls. This is the first time in my life to have a relationship with a man with a daughter. He divorced. Don’t get me wrong. And they have this beautiful five years old daughter who lives with her Mom. Tujuan utama dia pulang kampung setiap dua bulan sekali adalah untuk mengunjungi anaknya dan memenuhi peranannya sebagai seorang ayah. For me, that is so sexy. So we picked her up from school and brought her to his parent’s house where we were staying at. She doesn’t speak English or Indonesian. But somehow we could understand each other. Lucu, namun begitulah adanya. Basically, saya sangat menyukai anak-anak, dan dia adalah anak yang sangat supel dan periang. Tidak sulit bagi kami untuk saling menyukai.

Sering saya merasa mungkin Tuhan sudah menyiapkan semua ini bagi saya. Banyak saya dengar cerita tentang teman yang berpacaran dengan lelaki yang sudah pernah menikah lalu bercerai dan mereka mempunyai anak. Sebagian dari mereka bisa get along dengan anaknya, banyak juga yang sulit diterima. Bukan hanya oleh anaknya, terlebih oleh keluarganya. Bagi saya dan kebanyakan orang Asia, keluarga adalah entitas terpenting dalam kehidupan. Sehingga penting bagi saya untuk bisa mingle dengan keluarga pasangan saya. Sebab setiap hubugan akan berjalan ke tahap yang lebih serius, yaitu pernikahan. Tanpa kita rencanakan mungkin kita akan berjalan kesana. Sadar atau tidak. Membuat saya semakin tidak percaya. Dengan keluhan dari beberapa teman yang tidak disukai oleh anak pasangannya, saya bisa akrab dengan anaknya. This is just too good to be true.

Dalam satu waktu saya punya semuanya. Pasangan, keluarga, dan anak. Dengan segala passion dan impian saya dalam hidup yang masih ingin saya wujudkan, dialah pasangan yang tepat untuk saya pada saat ini. Kenyataan bahwa dia sudah memiliki anak membuat saya tenang sebab dia tidak akan memaksa saya untuk menikahinya dan memberikannya anak, because he already has one. Pandangan seperti ini tidak lazim, ya saya mengerti. Lahir dan besar di negara Asia tepatnya Indonesia yang memiliki banyak aturan-aturan sosial yang terkadang tidak masuk akal, membuat saya sempat hampir menjadi salah satu dari “korban sosial” seperti kebanyakan orang Indonesia. Termasuk mungkin orang tua saya.

Bekerja di luar negeri dan berkesempatan mengunjungi hampir semua negara di belahan dunia lain membuka cakrawala berpikir saya seluas-luasnya. Kalau selama ini saya hanya membacanya dari buku atau mendengar pengalaman orang lain, kini saya alami sendiri. Sehingga penilaian ini saya anggap akurat. Sebab saya melihat, mendengar, dan mengalami semuanya. Girls, ternyata banyak hal yang aneh dalam budaya kita. Tidak ada yang salah. Tidak ada budaya yang baik atau buruk, yang ada hanyalah sesuai atau tidak sesuai bagi orang-orang yang hidup dalam sistem dan lingkungan sosial tersebut.

Memacari atau berhubungan, terlebih lagi menikah dengan seseorang yang pernah menikah sebelumnya (lalu bercerai) adalah hal yang sangat tidak lazim di Indonesia. I mean, it does happen, but it’s not something that you have to be proud of. Bahkan beberapa orang menganggapnya aib. Kebanyakan menyayangkan bila mendengar keluarganya mengalami hal demikian. Bagi orang tua, hal ini juga menjadi sebuah pukulan atau bukanlah hal yang patut dibanggakan. Ini tidak salah, hanya aneh bagi saya. Bukankah semua orang punya hak yang sama dalam berhubungan dengan siapapun? 

Bisa dibayangkan, sekarang saya mengencani lelaki ini, dengan embel-embel sebagai berikut: berusia jauh lebih tua dari saya, lahir dan besar di Eropa, sudah pernah menikah, dan punya seorang anak. Kalau di Indonesia saya pasti sudah mengalami berbagai tekanan. Terlalu banyak aturan sosial dalam budaya kita yang kadang membuat saya tak habis pikir. Terkadang terlalu kejam. Mengatasnamakan kebahagiaan dan kehormatan keluarga, banyak hati tersakiti. Bukankah kita tidak seharusnya mengatur kebahagiaan orang lain? Bukankah kita sepatutnya mendukung apapun yang membuat seseorang yang kita sayangi bahagia? Bayangkan mereka yang baru menikah dan belum dikaruniai anak, setahun kemudian keadaan tetap sama, lalu semua orang mulai menananyakan, kapan punya momongan? Sementara pasangan ini berusaha keras dan juga sangat menginginkannya, tetapi tidak ada yang berubah, sang momongan masih belum terlahir ke dunia. Apa yang harus dilakukannya? 

Mungkin banyak dari kita yang tidak sadar kalau hal itu menyakitkan bagi pasangan ini. Tetapi tentu hal ini adalah lazim di dalam budaya kita. Sejak kecil sayapun dididik untuk mengerti bahwa tujuan dari pernikahan adalah memiliki anak dan membesarkannya. Tanpa peduli apakah hal itu akan membuat saya lebih bahagia atau tidak. Sehingga stigma yang terpelihara dalam sebuah lembaga pernikahan di Indonesia adalah end of the world. Highest stage and that’s it. Setelah menikah, seorang perempuan tidak bisa lagi bertindak leluasa terhadap karir dan impiannya. Ya, saya bicara sebagai perempuan dan melihat dari kacamata perempuan.

Sungguh saya salut dan mengagumi mereka yang memutuskan untuk menikah di usia muda dan segera memiliki anak. Betapa tidak, anak adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Sayapun berharap suatu saat nanti bisa memilikinya, mungkin satu atau dua. Anyway, ibu saya menikah di usia sangat muda namun normal pada saat itu, 20 tahun. Saya sama sekali tidak bisa membayangkan menjadi istri di usia yang begitu belia, dan di usia saya beliau sudah memiliki dua anak, saya dan kakak laki-laki saya. Saya mengidolakannya untuk itu. terima kasih yang tak terhenti dan terkira untuk beliau, dan cinta terbesar saya untuknya dan juga ayah yang telah membesarkan saya. Namun, itulah hidup mereka. Dunia berputar, bumi semakin dewasa, dan kehidupan sudah banyak berubah. Tidak bisa lagi kita anggap hari ini sama seperti tiga puluh tahun yang lalu. Bagaimanapun kenyataan, pendidikan dan pengalaman telah mendewasakan saya dan pemikiran saya, dan saya anggap wajar kalau pandangan saya tentang sebuah hubungan, pernikahan dan banyak hal lainnya berbeda dengan pandangan orang tua saya. Saya tidak memaksa mereka untuk mengerti, hanya berharap semoga mereka juga tidak memaksa saya untuk mengerti jalan pikirannya. Memiliki pandangan yang berbeda sama sekali tidak akan merubah kasih sayang saya kepada keduanya.

Bagaimanapun saya hidup dan terdidik dengan pemikiran dan pandagan-pandangan tersebut, sehingga banyak hal yang secara sadar maupun tidak sadar melembaga dalam diri saya. Tentu ada yang positif dan juga yang negatif.

Saya tau betul resiko dari keputusan saya. Ketika saya berkata pada diri saya sendiri untuk mencobanya, selalu ada dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Kegagalan bukanlah ketakutan saya, tetapi bagaimana kalau ini berhasil? Maka saya harus berjuang menembus segala tameng budaya yang terbentang diantara kita. Dari usia sampai fakta bahwa dia sudah memiliki seorang anak. Hal yang rasanya tidak perlu saya pikirkan sekarang. Untuk apa kita bersusah payah memikirkan hal yang belum terjadi sementara yang terjadi sekarang begitu menyenangkan? Dulu saya adalah orang yang selalu berpikir. Saya tidak pernah berhenti berpikir, sampai tidurpun sepertinya saya masih suka memikirkan sesuatu. Hasilnya? Lelah. Dan saya sering lupa untuk menikmati apa yang saya punya saat ini. Ketika isi kepala saya hanyalah penyesalan akan kesalahan yang saya buat di masa lalu dan berpikir keras bagaimana hari esok harus saya jalani untuk memperbaiki kesalahan yang lalu. Kini saya coba tetapkan pada porsinya. Pikirkan masa lalu, itu penting. Sebagai pelajaran. Merancang masa depan, tentunya. Namun terlebih lagi, saya harus bisa mensyukuri hari ini, menikmatinya dan melakukan yang terbaik sehingga esok hari saya tak perlu memikirkan masa lalu sebab semua berjalan dengan indah.

Banyak orang yang tidak mau mengakui kalau sebuah hubungan adalah trial and error. Kenapa tidak? Kalau memang begitu adanya. Seperti yang sudah saya uraikan sebelumnya, ketika saya memutuskan untuk memulainya, saya sadar ada dua kemungkinan yaitu berhasil atau gagal. Saya coba, dan kalau gagal, itulah error. Evaluasi, lalu lakukan perbaikan. Ya, saya tau tidaklah semudah itu. kita manusia bukanlah mesin, yang bisa mudah di hard-reset jika ada sesuatu yang tidak beres. Kita manusia bukanlah computer yang jika sudah kehilangan suatu komponen bisa digantikan dengan membelinya di toko. Tapi saya akui kalau setiap hubungan adalah trial and error.

Ada kalanya, mungkin ketika saya masih dalam usia remaja awal, saya berpikir seperti Cinderella. Suatu saat pangeran saya akan datang dengan kuda putihnya dan membawa saya untuk hidup di istana, bahagia selamanya. Tamat. Lalu kehidupan mengajarkan dan memperlihatkan saya kalau, heloo.. hidup ini bukanlah cerita dalam buku dongeng. Memikirkan statistik saja sudah membuat risau, akankah saya bertemu dengan jodoh saya? Kalau melihat kenyataan di sekolah, setiap kelas pasti memiliki populasi perempuan yang lebih banyak dari laki-laki. Kalau dibagi rata saja, banyak perempuan yang tidak mendapat pasangan dari lawan jenisnya. Saya yakin ini juga jadi pemikiran orang tua kita yang sangat khawatir anak perempuannya sulit dapat jodoh, atau tidak berjodoh sama sekali. Sehingga wajar kalau perempuan Indonesia banyak diajarkan untuk menjadi “nomor dua” setelah laki-laki, for the sake of mudah dapat jodoh. Jadilah istri yang penurut kelak, maka akan bahagia. Menjadi pasangan dari seorang laki-laki seolah berkorban. Apakah betul?

Saya tidak bisa jawab sekarang. At this point, saya (sedang) merasa benar. benar karena perasaan ini membuat saya nyaman. Dengan berbagai perbedaaan diantara saya dan dia, saya juga merasa tertantang untuk menjalaninya. Akankah saya bisa? Akankah dia bisa?

Ok, mari kita berhenti disini. Saya sudah sepakat dengan diri saya untuk tidak terlalu banyak berpikir, tapi melakukan. Action speaks louder than words. Of course, I strongly believe so. Sejak pertama kami keluar untuk makan malam, terlihat jelas apa tujuan dia mendekati saya, but we didn’t talk about it. Actually I didn’t want to talk about it. Kemungkinan terbesar karena saya masih takut dan tidak terbiasa untuk hubungan baru. Dia dengan sabarnya menunggu saya, mengerti emosi saya yang sangat fluktuatif, dan keragu-raguan saya.

So many times I tried to resist, but eventually I admit it. We talk every day; go out whenever it’s possible, share stories about our past, our values, and the way we see things. We introduce our friends, family, culture and our job to each other. Maybe we are building something. Something that we or I have never thinks that it will work between us. A relationship.

Family Value


Kata-kata bijak bilang bahwa kita baru akan tahu arti dari sesuatu jika sesuatu itu hilang atau pergi dari kita. Dari hal yang paling sederhana, seperti barang yang kita miliki, sampai orang-orang yang kita sayangi dalam hidup ini. Baik itu perpisahan yang singkat, apalagi yang selama-lamanya. Barangkali klise, tapi memang benar adanya. Namun kita juga sepakat bahwa setiap perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sesuatu yang baru.

Perasaan ini muncul ketika saya harus melepas pergi dua orang subjek dari Automatic Love. Kalau dalam berkendaraan ada dua jenis mesin, yaitu manual dan automatic. Dalam mencintai juga saya yakin ada dua hal ini, otomatis adalah cinta yang tanpa harus diset atau diperintah tetapi sudah ada dengan sendirinya. Dengan lahirnya kita dari rahim yang sama, dengan pembuah yang sama, terprogramlah sudah kalau kita harus mencintai satu sama lain. Keluarga.
Satu tahun tinggal jauh dari mereka, yang sudah hidup bersama saya selama umur saya dikurangi satu, adalah tantangan maha berat. Banyak hal yang wajar menjadi tidak wajar, dan timbul pertanyaan kemudian, sebenanarnya apa itu wajar? Jika tidak bertemu mereka saat saya bekerja, perasaan itu kandas. Perasaan yang ada hanyalah rindu yang manis dan pikiran sibuk membuat rencana ketika perjumpaan terjadi kelak. Tapi perasaan ini adalah yang muncul ketika sudah lama tidak bertemu, lalu bertemu sebentar, terbiasa bersama dan harus berpisah cepat.

Sedih memikirkan apakah mereka bahagia selama selang waktu singkat lalu bersama saya. Sedih membayangkan mereka juga sedih berpisah dengan saya pada satu lambaian lemas di airport tadi pagi. Sedih melihat punggung mereka menghilang dari kejauhan dengan perasaan khawatir, kapankan kita akan bertemu lagi, dan mungkinkah suatu saat kita kembali wajar? Bersama setiap hari, bangun dari atap yang sama, makan dari hasil karya orang favorit yang sama, bertengkar, bercengkrama, berdebat, berkomentar pedas, saling membenci dan kembali saling memaafkan dan mencintai tanpa pilihan.

Misteri adalah perasaan ini. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan hubungan sekuat ini? Tali keluarga yang imajiner namun tak terpisahkan dengan apapun. Bahkan maut tak mampu merubah apapun. Merekalah orang-orang yang terlihat tidak perduli namun tidak bisa tidur nyenyak ketika kita menghadapi masalah. Merekalah orang-orang yang tanpa diberi tahu, akan tahu perasaan kita hanya dengan tatapan mata atau nada suara, bahkan dalam ribuan atau ratusan mil jarak yang memisahkan.

Kadang kita lupa, seringkali tidak peduli, yang mereka butuhkan bukan materi atau kemewahan yang selalu kita klaim jadi alasan sulitnya pertemuan. Mereka hanya ingin kebersamaan, dan perasaan campur aduk standar yang selalu dirasakan saat kita ada diantara satu sama lain. Kita adalah bagian dari mereka, maka kitapun merasakan hal yang sama. Yang kita inginkan dan rasakan, persis seperti yang mereka inginkan dan rasakan juga. Sederhana saja. Keberadaan.

Pernahkah kita pikirkan, berapa banyak lagi waktu yang kita punya di dunia? Pernahkah kita mencoba memprosentasekan alokasi waktu yang kita habiskan untuk mereka dan pekerjaan, serta segudang rencana mewujudkan mimpi-mimpi yang tiada ujungnya? Atau hanya berkumpul dengan manusia-manusia baru dalam hidup kita bernama teman, sahabat, pacar – yang baru mengenal kita beberapa saat saja—yang mendadak selalu jadi lebih penting dibandingkan mereka. Sudah adilkah kita?

Jika keadilan itu hanya milik Tuhan, benar adanya. Jika membagi waktu untuk diri sendiri saja sulit, juga tidak bisa dibantah. Toh pun saya yakin seratus persen kalau mereka tidak pernah menuntut keadilan, termasuk saya, dan kita, yang menjadi bagian dari mereka. Dan mereka ini adalah orang-orang yang tidak pernah dan tidak akan pernah merasa terancam dengan kesuksesan kita. Mereka adalah orang-orang yang selalu bahagia mendengar kabar baik dari kita, dan bersedih menyaksikan kita terpuruk. Selalu. Bahkan tanpa kita tahu.

Beruntunglah atau kurang beruntung mereka yang selalu bersama sejak dimulainya kehidupan sampai saat ini, atau sampai kehidupan itu mencapai akhir. Beruntung karena orang-orang ini selalu merasakan wajar. Kurang beruntung karena adanya keniscayaan wajar, orang-orang ini tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan sekarang. Tidak pernah tahu betapa pentingnya mereka, sampai ada kehilangan.

Bukan tantangan kalau itu mudah. Pilihan hidup yang saya jalani, juga banyak orang diluar sana yang memilih jalan yang sama, adalah tidak wajar bagi kebanyakan orang di budaya kita. Budaya yang membesarkan saya dan leluhur saya. Budaya yang membentuk pola pikir saya. Budaya yang membentengi saya dan sekaligus membebaskan saya pada akhirnya setelah tahu dan mengenal kaedahnya atas perenungan saya sendiri. Atas apa yang saya alami, dengar dan rasakan sendiri. Budaya yang memberikan saya segudang pertanyaan sejak kecil sampai detik ini, tak terjawab dan tidak perlu dijawab oleh siapapun. Begitu adanya. Hormati dengan maksimal.

Mereka adalah orang-orang yang menjadi Top Priority dalam budaya kita. Selalu dikumpulkan bersama sejak kecil, menjadi satu tanpa batasan jenis kelamin atau usia atau apapun. Berlawanan dengan budaya yang dianut di belahan bumi lainnya, yang sejak kecil selalu dididik untuk mandiri dan tidak saling bergantung pada satu sama lain. Tapi satu hal yang sama, kita diajari untuk saling melindungi, lagi-lagi tanpa pilihan. Dan ke-otomatisan itu tercipta dengan sendirinya. Tanpa akhir.

Suatu saat, kita akan meneruskan tali Automatic Love ini pada keluarga kita. Pada anak-anak yang kita akan lahirkan kelak, Inshallah. Bagaimana cara kita mendidiknya, adalah pilihan. Tapi ikatan itu tidak akan pernah bisa dipalsukan. Ironisnya, suatu saat nanti, kita akan melupakan tali yang mengikat kita sebelum kita menciptakan ikatan baru. Inilah kehidupan.

Namun suatu saat yang belum terjadi itu, biarlah berjalan dengan sendirinya, dengan alami. Saat ini, yang kita sedang jalani adalah hadiah. Seperti peribahasa, “yesterday is a past, tomorrow is a future, and today is a present”. Pentingnya masa depan dan berharganya masa lalu, tidak perlu menggeser keindahan dari hari ini. Live the life (of now) to the fullest.

Entah berapa lama lagi kita akan bersama-sama dengan mereka seperti dalam sebuah keluarga yang utuh. Bersyukurlah bagi kita yang pernah main sepeda bersama, memanjat pohon bersama, berpeluh keringat dikejar anjing tetangga, atau bolos pengajian bersama. Bersyukurlah kita yang pernah saling melindungi di depan orang tua kita, saling meminjamkan uang atau pakaian (lalu lupa mengembalikan sampai sekarang), saling menjemput di kala hujan dan lelah (karena tidak tega, dipaksa Mama atau naksir temannya). Bersyukurlah kita yang pernah merasakan getirnya hidup bersama dengan lampu cempor sebelum ada listrik di rumah, tidur jam delapan malam karena hanya ada siaran TVRI di televisi, menangis terkena jepretan sapu lidi Papa, dan mengutuk maling sepeda. Bersyukurlah kita yang dilahirkan dari keluarga yang sama (guess it was a luck), mengeluhkan peraturan konyol bersama yang baru kita tahu bagusnya sekarang, dan dimahari karena bill telepon yang meledak (waktu belum punya hape, apalagi bebe).

Bersyukurlah kita yang pada akhirnya bisa mandiri dari didikan yang sama, berjuang masing-masing untuk tujuan yang serupa tapi tak sama, dan berpencar menggapai mimpi yang berbeda tanpa sedetikpun berhenti saling mendoakan. Alhamdulilah..

Akhirnya, tulisan ini saya buat bukan untuk menggurui apalagi menjustifikasi. Hanya sebagai bahan perenungan diri di hari Minggu yang lumayan mendung.

Dubai, 4 September 2011
(Untuk Abang, Caca dan Ade, kakak dan adik-adikku. Serta untuk Mama dan Papa, orang tua yang melahirkan dan membesarkan kami)