Thursday, October 4, 2012

Higher Than The Sky



Sebelum mengenal dia, saya adalah orang paling keras kepala yang pernah saya tahu. Karena saya tidak suka digurui, tidak mudah percaya sebelum membuktikan atau merasakan sendiri. Saya merasa teori saya adalah yang paling benar. Kalaupun salah dan akhirnya saya mengakui, itupun setelah habis-habisan ngotot berdiri diatas keyakinan saya atas sesuatu. Namun kerasnya hati ini tidak pernah melunturkan perasaan saya akan sesuatu. Saya yang keras dan ngotot ini adalah penyayang nomor satu.

Sampai akhirnya bertemu dengan manusia ini, terkeras-kepala sejagat raya. Bersamanya selama hampir dua puluh bulan adalah tantangan terberat dalam kehidupan percintaan saya. Berdebat dan akhirnya bertengkar, adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Meskipun pada akhirnya kita selalu bersepakat untuk tidak sepakat akan suatu hal yang telah diperdebatkan, berjabat tangan dan memulai lagi bersayang-sayangan. Break up and make up circle. Tanpa konklusi akhir tentang persoalan yang jadi sebeb pertengkaran.

Itu karena cinta masih ada. Berlimpah ruah.

Terpikir oleh saya perkataan orang-orang tentang tidak terlalu pentingnya cinta dalam sebuah hubungan, termasuk pernikahan. Katanya yang penting adalah saling menghormati, kondisi keuangan yang stabil, dan sabar. Saya sadari kini apa pentingnya cinta. Kalau tidak ada rasa itu, bagaimana kita bisa melalui masa-masa krisis dalam hubungan semacam ini? Kalau tidak mempertimbangkan perasaan hangat saat bersama dia, perasaan “lengkap” ketika berbagi dengannya, rasa cinta, tentunya. Sungguh saya sudah akan lari dan pergi dari hubungan ini. Dalam keadaan emosi pun saya masih bisa memikirkan saat-saat menyenangkan bersamanya, dan betapa kita berdua akan sama-sama kalah, dan kehilangan.

Semakin jauh saya berpikir, apakah yang akan terjadi jika cinta sudah pudar?

Nothing lasts forever. That’s for sure. Sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi. Debaran itu akan hilang, 
kerinduan akan berubah bentuk, dan cinta tidak lagi relationship, melainkan companionship. Akankah saya dan dia setoleran ini? Masih bisakah kita melupakan pertengkaran, berpelukan dan menyapa selamat pagi seolah tidak pernah terjadi apa-apa?

Atau mungkin yang akan terjadi sebaliknya, hubungan akan semakin kuat, regardless cinta masih ada atau tidak, dan batas toleransi kita akan semakin meluas. Who knows.

Ini adalah pertengkaran kami yang ke… sekian kalinya. Dan selalu berujung sama. Saya yang dongkol sendiri sebab dia tidak melakukan hal yang menjadi ekspektasi saya. Apapun masalahnya, adalah kodrat perempuan untuk selalu protes dan complaining akan hal-hal yang kecil dan sepele, menurut lelaki. Yang saya inginkan hanyalah conflict resolution yang tepat. Sudah terumuskan dari ratusan tahun yang lalu, kalau seorang perempuan ngambek, lelaki harus mencairkan, membuat hatinya damai kembali, berkata sesuatu yang manis dan semua akan baik-baik saja. Tetapi tidak terjadi dalam hubungan kami.

Lelaki saya, manusia paling keras-kepala sejagat raya, tidak bisa memberikan itu. Dialah bensin dan saya apinya. Ketika saya menyala, dia membuat nyalanya makin besar, tidak bisa jadi air. Karena dia lahir dan hidup di budaya fair play, dimana semua dianggap sama, perempuan dan laki-laki sama. Inilah sebab mengapa kesetaraan gender masih menjadi diskusi yang hangat dibicarakan dan ditentang di dunia Timur. Kalau memang perempuan ingin disetarakan dengan lelaki dalam segala hal, ini yang terjadi. Sayapun akhirnya harus mengakui, kalau kesetaraan itu tidak bisa dipukul rata dan diterapkan dalam kehidupan percintaan atau rumah tangga. Terlahir dan dibesarkan di negara dengan budaya dominasi lelaki, saya masih percaya kalau somehow, lelaki adalah pemimpin dan pelindung. Secara kodrati, dia harus bisa mengalah. Tidak ada yang salah. Hanyalah isi kepala kami yang berbeda, dan kerasnya hati tidak bisa melunturkan ego. Dalam pikiran kami masing-masing, diri sendiri yang benar.

Lagi-lagi, perbedaan budaya. Siapa bilang menjalin hubungan dengan orang yang berbeda budaya itu mudah? Jawabnya tidak sama sekali.

Teori tradisional tentang submissive-dominant roles dalam sebuah hubungan tampaknya harus ditinjau ulang. Nyatanya tidak semua hubungan seperti itu. Ketika keduanya ingin berperan sebagai dominant role, perdebatan dan pertengkaran menjadi menu bulanan atau mingguan. Melelahkan, tetapi tahap ini harus dilewati. Mungkin suatu saat nanti kami akan kehabisan bahan untuk diperdebatkan karena kebersamaan yang berlangsung lama.

Dulu, ketika saya menjalin hubungan dengan lelaki yang sebaya dari satu budaya, saya merasa perannya submissive, dan saya menjadi besar kepala, mendominasi. Pada masa itu saya merindukan lelaki yang bisa mengendalikan saya, membuat saya takluk. Kini ketika saya dihadapkan dengan karakter itu, persoalannya lain lagi.

Setiap kali memikirkan ini, terbesit di benak saya, is it me? Apakah saya biang keladinya? Kalau begitu putus bukanlah solusi yang cukup bijaksana. Bagaimana jika nanti saya menjalin hubungan baru dan masalahnya tetap sama seperti ini? Ketidakpuasan saya akan peran lelaki dalam hubungan. Mereka selalu salah dan kurang, sementara saya merasa tidak lengkap tanpanya.

Mungkinkah saya memang belum bisa menjadi dewasa? Ataukah saya belum siap untuk menjalin hubungan yang serius, dimana saya harus mengorbankan ego saya, dan berbesar hati menerima segala kekurangan yang ada di pasangan saya? Bisakah saya berhenti mencari dan berusaha menciptakan kesempurnaan? Karena tidak ada yang sempurna. Tidak terkecuali diri saya.

Lalu pikiran itu datang in a rush. Diatas langit masih ada langit. Dan diatasnya masih ada lagi. Sampai tujuh lapis. Menjadi keras kepala tidak bisa menyelesaikan persoalan. Sekeras apapun saya berteriak, selama apapun saya melakukan silent action, dia tidak akan berubah. Begitupun saya. Tetapi selama masing-masing berusaha untuk menurunkan ego setiap kali masalah muncul, saya yakin lama kelamaan keinginan untuk berdebat dan bertengkar akan hilang dengan sendirinya.

Dan akhirnya dia meminta maaf karena menyadari ketidak mampuannya untuk menjadi air ketika saya menyala. Sungguh hanya itu yang saya harapkan. Bukan dia berubah menjadi Prince Charming dalam satu malam dan mengabulkan semua impian saya. Bukan dia tiba-tiba setuju akan semua opini saya. Kami akan selalu berbeda, itu pasti. Kepintaran dan keteguhan dia dalam berpendapat, in fact, adalah salah satu hal yang menjadi daya tariknya. Kekaguman saya selalu ada pada orang yang teguh hati terhadap pendapatnya. Dia tahu apa yang dia mau. Meskipun tidak saya pikirkan sebelumnya kalau kemampuan itu juga dia praktekan dalam hubungan kami.

Anyway, pengakuan dia bahwa dirinya tidak selamanya benar dan meminta maaf, adalah tindakan yang menurut saya paling bijaksana dan benar, dalam kamus kelaki-lakian yang saya percaya. Dan saya hargai itu dengan nilai yang tinggi. Toh pada akhirnya saya juga menyesali pertengkaran yang terjadi, yang seharusnya bisa dihindari. Saya pun berjanji pada diri sendiri untuk berusaha tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil dalam hubungan kami.

Dan kami berdua sama-sama menang.


Dubai, 4 October 2012

Sunday, April 8, 2012

Me, Mom and Dad


Me, 5 yo

I love my Mom, I adore my Dad.

Mom always look pretty with the red lipstick on her lip and her bags are amazing! I would love to walk on her shoes and borrow her bag to show it to my friends. She can cook really good. I wish I could do it. Sometimes I’m helping her with the chopping or pealing in the kitchen. She doesn’t really like it when I play with her knife, cause she doesn’t want me to get cut and bleed. She’s always protecting me.

Dad is really cool. He can fix eeverything. He can do something that Mom can’t do. He never scared of animals, lizard on the wall nor the wild rat. He’s so tall and strong. He can lift me up till I almost hit the ceiling. I really like it. He’s always make me laugh whenever he comes home from work. He’s never tired.

I cannot live a day without Mom and Dad.


Me, 13 yo

I think my parents don’t like me. Maybe I was adopted.

Mom never trusted me. She’s always asking where am I, who am I with. I was just spending time at school. I don’t wanna be such nerd students who’s always go home straight away from the last class. I like to hang out on the school terrace, watching the seniors playing basketball, chatting with the girls. Singing the new songs on MTV and discussing the last episode of our favorite TV shows. Can’t Mom understand that? And why brother can go home later than me? Why Mom always comparing me to him. He never did that, He’s always like that. I think she loves him more than me.

Dad is so old fashioned! Why can’t he give me permission to go to the movies with my friends?? Why can’t I join the girls to sleep over at her house? Why? Why can’t he act as cool as her parents? Or her parents? She can go wherever she wants to go. She has a boyfriend already, and she can bring her boyfriend home, she introduces him to the whole family. Her parents are so cool. Unlike mine. I feel so embarrassed that I can’t join them again today to watch the basket ball match in the stadium on weekend. He just want me to feel so. He doesn’t want me to be happy.

I wish I wasn’t born in this family.


Me, 17 yo

My parents are from Mars

Mom is always judging. She blames all of my friends including their parents for my change of behavior. I never changed. I’m just growing up. She thinks I didn’t know that she was a bad girl. Come on Mom, give me a break. Let me go clubbing. I won’t drink. I just like to enjoy the music, dancing with the girls. And ya of course, I like it if the guys see me like a grown up woman. And please stop telling me that my skirt is too short or my shirts is too tight. I like to dress like this. I feel so mature. I’m not your little doll anymore. I know you’re older than me but doesn’t mean that you know better. You don’t even know the latest fashion. And please, Mom, understand that if I’m borrowing something from my friends or the other way around, its normal. Everybody does that.

Dad, you’re rich but how come you don’t want to buy me a cell phone? Most of my friends have it. I’m the only one who still using the land line. I need privacy Dad. I don’t want you to answer all the calls for me and ask their names first. We don’t do that anymore. I have my ID already and I can vote on the next election. I’m responsible enough for the cell phone. Ok, I’m sorry for the last month phone bill, it wont happen again. But please.. buy me a cell phone. I promise will have better marks next semester.
And Dad, can you stop staring at him like that? He wont get me pregnant. He is just dating me. So what if he takes me home from school? So what if his parents gave him a nice car? Doesn’t mean that he is a bad boy. Just trust me. You need to know that it’s normal for girls in my age to date a guy.

What’s wrong with you guys???


Me, present time

I love you Mom and Dad, but this is my way

Mom, I love you from the bottom of my heart. Thank you for always be there for me. Even though now we live far away from each other. You know that I always miss you. Miss your food. Miss everything at home. Even I miss the scent of the softener you put to wash our clothes. I cannot express how happy and lucky I am to be your daughter. And all the things you have been sharing to me, teaching me to be a good person in the future. We had so many arguments along the way. But we’re always ended up praying for each other, coz we both know that we cannot live without each other. Thank you for defending me, my feelings and my will in front of Dad. We both know that he’s always been the strong man, the leader, the rule maker in the family. What we should do now? I don’t have any guts to fight with him. I love him too, but please tell him to understand that I’m not his little girl anymore. I chose him, Mom. You know I will be happy with him. Why can’t he see it?

And Dad, you know exactly how I am. I have this from you. This persistent and stubborn attitude. That’s why we keep fighting for the same thing, but different version. Our thoughts, point of view. You think you wanna protect me, you are not protecting me Dad. You’re hurting me by saying I’m hurting you. I never wanted to hurt you. I just want you to understand, that I’m making my own decisions now. I know what I’m doing, and please just trust me. Please let me live my life. You will always be favorite man. No one will ever take your place. Please don’t hate him, accept him. One day he will be like you to my children. I know it’s hurting both of us. I’m fine with not talking about it. Whenever I go home, let’s just enjoy our time. And see what’s gonna happen next. One thing for sure, I love you.

It's time for me to have my own life...