Sebelum mengenal dia, saya adalah orang paling keras kepala
yang pernah saya tahu. Karena saya tidak suka digurui, tidak mudah percaya
sebelum membuktikan atau merasakan sendiri. Saya merasa teori saya adalah yang
paling benar. Kalaupun salah dan akhirnya saya mengakui, itupun setelah
habis-habisan ngotot berdiri diatas keyakinan saya atas sesuatu. Namun kerasnya
hati ini tidak pernah melunturkan perasaan saya akan sesuatu. Saya yang keras
dan ngotot ini adalah penyayang nomor satu.
Sampai akhirnya bertemu dengan manusia ini, terkeras-kepala
sejagat raya. Bersamanya selama hampir dua puluh bulan adalah tantangan
terberat dalam kehidupan percintaan saya. Berdebat dan akhirnya bertengkar,
adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Meskipun pada akhirnya kita selalu
bersepakat untuk tidak sepakat akan suatu hal yang telah diperdebatkan, berjabat
tangan dan memulai lagi bersayang-sayangan. Break up and make up circle. Tanpa
konklusi akhir tentang persoalan yang jadi sebeb pertengkaran.
Itu karena cinta masih ada. Berlimpah ruah.
Terpikir oleh saya perkataan orang-orang tentang tidak
terlalu pentingnya cinta dalam sebuah hubungan, termasuk pernikahan. Katanya
yang penting adalah saling menghormati, kondisi keuangan yang stabil, dan
sabar. Saya sadari kini apa pentingnya cinta. Kalau tidak ada rasa itu,
bagaimana kita bisa melalui masa-masa krisis dalam hubungan semacam ini? Kalau
tidak mempertimbangkan perasaan hangat saat bersama dia, perasaan “lengkap”
ketika berbagi dengannya, rasa cinta, tentunya. Sungguh saya sudah akan lari
dan pergi dari hubungan ini. Dalam keadaan emosi pun saya masih bisa memikirkan
saat-saat menyenangkan bersamanya, dan betapa kita berdua akan sama-sama kalah,
dan kehilangan.
Semakin jauh saya berpikir, apakah yang akan terjadi jika
cinta sudah pudar?
Nothing lasts forever.
That’s for sure. Sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi. Debaran itu akan
hilang,
kerinduan akan berubah bentuk, dan cinta tidak lagi relationship, melainkan companionship. Akankah saya dan dia
setoleran ini? Masih bisakah kita melupakan pertengkaran, berpelukan dan
menyapa selamat pagi seolah tidak pernah terjadi apa-apa?
Atau mungkin yang akan terjadi sebaliknya, hubungan akan
semakin kuat, regardless cinta masih
ada atau tidak, dan batas toleransi kita akan semakin meluas. Who knows.
Ini adalah pertengkaran kami yang ke… sekian kalinya. Dan selalu
berujung sama. Saya yang dongkol sendiri sebab dia tidak melakukan hal yang
menjadi ekspektasi saya. Apapun masalahnya, adalah kodrat perempuan untuk
selalu protes dan complaining akan hal-hal yang kecil dan sepele, menurut
lelaki. Yang saya inginkan hanyalah conflict resolution yang tepat. Sudah
terumuskan dari ratusan tahun yang lalu, kalau seorang perempuan ngambek,
lelaki harus mencairkan, membuat hatinya damai kembali, berkata sesuatu yang
manis dan semua akan baik-baik saja. Tetapi tidak terjadi dalam hubungan kami.
Lelaki saya, manusia paling keras-kepala sejagat raya, tidak
bisa memberikan itu. Dialah bensin dan saya apinya. Ketika saya menyala, dia
membuat nyalanya makin besar, tidak bisa jadi air. Karena dia lahir dan hidup
di budaya fair play, dimana semua
dianggap sama, perempuan dan laki-laki sama. Inilah sebab mengapa kesetaraan
gender masih menjadi diskusi yang hangat dibicarakan dan ditentang di dunia
Timur. Kalau memang perempuan ingin disetarakan dengan lelaki dalam segala hal,
ini yang terjadi. Sayapun akhirnya harus mengakui, kalau kesetaraan itu tidak
bisa dipukul rata dan diterapkan dalam kehidupan percintaan atau rumah tangga. Terlahir
dan dibesarkan di negara dengan budaya dominasi lelaki, saya masih percaya
kalau somehow, lelaki adalah pemimpin
dan pelindung. Secara kodrati, dia harus bisa mengalah. Tidak ada yang salah. Hanyalah
isi kepala kami yang berbeda, dan kerasnya hati tidak bisa melunturkan ego. Dalam
pikiran kami masing-masing, diri sendiri yang benar.
Lagi-lagi, perbedaan budaya. Siapa bilang menjalin hubungan
dengan orang yang berbeda budaya itu mudah? Jawabnya tidak sama sekali.
Teori tradisional tentang submissive-dominant roles dalam sebuah hubungan tampaknya harus
ditinjau ulang. Nyatanya tidak semua hubungan seperti itu. Ketika keduanya
ingin berperan sebagai dominant role,
perdebatan dan pertengkaran menjadi menu bulanan atau mingguan. Melelahkan,
tetapi tahap ini harus dilewati. Mungkin suatu saat nanti kami akan kehabisan
bahan untuk diperdebatkan karena kebersamaan yang berlangsung lama.
Dulu, ketika saya menjalin hubungan dengan lelaki yang
sebaya dari satu budaya, saya merasa perannya submissive, dan saya menjadi besar kepala, mendominasi. Pada masa
itu saya merindukan lelaki yang bisa mengendalikan saya, membuat saya takluk. Kini
ketika saya dihadapkan dengan karakter itu, persoalannya lain lagi.
Setiap kali memikirkan ini, terbesit di benak saya, is it me? Apakah saya biang keladinya? Kalau
begitu putus bukanlah solusi yang cukup bijaksana. Bagaimana jika nanti saya
menjalin hubungan baru dan masalahnya tetap sama seperti ini? Ketidakpuasan
saya akan peran lelaki dalam hubungan. Mereka selalu salah dan kurang,
sementara saya merasa tidak lengkap tanpanya.
Mungkinkah saya memang belum bisa menjadi dewasa? Ataukah
saya belum siap untuk menjalin hubungan yang serius, dimana saya harus
mengorbankan ego saya, dan berbesar hati menerima segala kekurangan yang ada di
pasangan saya? Bisakah saya berhenti mencari dan berusaha menciptakan
kesempurnaan? Karena tidak ada yang sempurna. Tidak terkecuali diri saya.
Lalu pikiran itu datang in a rush. Diatas langit masih ada
langit. Dan diatasnya masih ada lagi. Sampai tujuh lapis. Menjadi keras kepala
tidak bisa menyelesaikan persoalan. Sekeras apapun saya berteriak, selama
apapun saya melakukan silent action, dia tidak akan berubah. Begitupun saya.
Tetapi selama masing-masing berusaha untuk menurunkan ego setiap kali masalah
muncul, saya yakin lama kelamaan keinginan untuk berdebat dan bertengkar akan
hilang dengan sendirinya.
Dan akhirnya dia meminta maaf karena menyadari ketidak mampuannya
untuk menjadi air ketika saya menyala. Sungguh hanya itu yang saya harapkan. Bukan
dia berubah menjadi Prince Charming dalam satu malam dan mengabulkan semua impian
saya. Bukan dia tiba-tiba setuju akan semua opini saya. Kami akan selalu
berbeda, itu pasti. Kepintaran dan keteguhan dia dalam berpendapat, in fact, adalah salah satu hal yang
menjadi daya tariknya. Kekaguman saya selalu ada pada orang yang teguh hati
terhadap pendapatnya. Dia tahu apa yang dia mau. Meskipun tidak saya pikirkan
sebelumnya kalau kemampuan itu juga dia praktekan dalam hubungan kami.
Anyway, pengakuan
dia bahwa dirinya tidak selamanya benar dan meminta maaf, adalah tindakan yang
menurut saya paling bijaksana dan benar, dalam kamus kelaki-lakian yang saya
percaya. Dan saya hargai itu dengan nilai yang tinggi. Toh pada akhirnya saya
juga menyesali pertengkaran yang terjadi, yang seharusnya bisa dihindari. Saya pun
berjanji pada diri sendiri untuk berusaha tidak terlalu mempermasalahkan
hal-hal kecil dalam hubungan kami.
Dan kami berdua sama-sama menang.
Dubai, 4 October 2012