Satu kata yang terucap dari bibir saya ketika menginjakkan kaki di kota ini adalah "Amazing". Saya merasa hidup di alam mimpi. Seketika teringat cerita Cinderella dengan kereta kudanya, dengan kastil-kastil megah, pesta dansa dan pangeran tampan. Magical.
Inilah catatan perjalanan saya berjalan-jalan menyusuri dinginnya Vienna di bulan Januari. Pemandangan ini yang terabadikan dalam perjalanan menuju Belvedere, kastil terkenal yang menjadi land mark kota ini.
Kalau memerhatikan jalanan dan bentuk bangunan di kota ini, tidak banyak berbeda dengan kota-kota di Eropa lainnya. Udara saat itu yang cukup ekstrim (menurut saya yang biasa tinggal di daerah tropis) tidak mengurungkan niat saya untuk menikmati keindahan kota ini. Waktu yang ditempuh dari Marriot, hotel dimana kami menginap sampai Istana Belvedere yang akan kami kunjungi, sekitar 15 menit berjalan kaki. Menjadi tantangan yang cukup berat bagi saya dan ketiga teman yang berasal dari Ethiopia, Brasil dan US.
Inilah saya dengan seorang teman asal Ethiopia. Salah satu hal yang menyenangkan dari pekerjaan ini bagi saya, adalah bisa bertemu dengan orang dari seluruh dunia. Biasanya hanya mendengar nama suatu negara dari berita di tv atau pelajaran semasa sekolah dulu, kini saya bisa bertemu langsung dan mendengar cerita tentang budaya dan negaranya.
Seperti yang saya sudah ceritakan di awal, kota yang indah ini membuat perjalanan kami sedikit lama, sebab selalu ingin berfoto di setiap sudut. sungguh indah. Bahkan di pavement ini, saya menyempatkan diri berfoto dengan rekan asal Egypt berkebangsaan American (tengah) dan Brazil (kanan).
Statue yang menjadi background foto saya ini dibuat untuk mengenang para pahlawan mereka yang gugur di medan perang dunia.
Isle bergaya Eropa kuno ini menjadi salah satu objek yang menarik perhatian saya untuk difoto. Mengingatkan saya pada film-film Eropa di pertengahan abad 16 atau 17. Dimana para perempuan masih mengenakan gaun dengan material bertumpuk-tumpuk dan korset extra ketat dengan cantiknya. Berjalan menyusuri koridor ini dengan kipas di tangan sambil tersenyum-senyum menggoda. Hahaha..
Akhirnya sampai juga kami di gerbang Istana Belvedere setalah hampir setengah jam berjalan, padahal waktu yang diperkirakan hanya 15 menit. Tentu disebabkan karena kami berkali-kali berhenti untuk berfoto.
Benar saja ketika memasuki kastil/istana ini, saya terkagum-kagum. Sungguh indah. Begitu indahnya di musim dingin bersalju seperti ini, membuat saya membayangkan betapa indahnya di kala musim panas. Inilah Istana Belvedere.
Sayang sekali hari semakin gelap, dan udara semakin dingin luar biasa. Kamipun memutuskan untuk kembali ke hotel dan makan malam. Di malam hari, kota ini lebih indah lagi. Saya merasa tak sampai hati melewatkan kesempatan untuk berfoto di gemerlapnya Vienna.
Inilah shopping arcade yang ada di arah berlawanan dengan istana Belvedere dari hotel Marriot. Di sepanjang area ini bisa ditemukan berbagai toko pakaian branded dari mulai Zara, Mango, H&M, dan berbagai merek lainnya. Berjalan terus menyusuri pertokoan ini, lalu kami tiba di Town Hall. Sayang sekali kamera saya tidak begitu bisa menangkap keindahan gedung ini. Tapi tentu anda bisa membayangkan betapa indahnya. Inilah istana Cinderella yang selalu hadir dalam khayalan masa kecil saya, dengan kereta kuda dan lain sebagainya. wonderful.
Setelah puas sight-seing, salah satu teman kami mengajak minum cokelat panas di salah satu cafe bernama Aida, berlokasi di pusat perbelanjaan tempat saya berfoto tadi. Oh My God, feel like I want to marry this chocolate!! So goood... Perpaduan cokelat panas dan whip cream yang manis.. susah diungkapkan dengan kata-kata. Luar biasa nikmat...
Dan petualangan kuliner tidak berhenti sampai disana, kami lalu makan malam di sebuah restoran bernama Purstner. Saya memesan makanan ini karena terbuat dari ayam. Sungguh enak, sayang sekali saya lupa nama menunya. Rasanya kurang lebih seperti chicken karage (paha ayam digoreng krispi). Lezat sekali. Setelah makan malam, kami kembali ke hotel dan bersiap untuk berjalan-jalan di hari berikutnya.
Kami harus kembali pulang ke Dubai siang hari esoknya. Namun saking saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati keindahan Vienna, saya bangun pagi sekali dan meneruskan sight-seing ke tempat yang kemarin malam dikunjungi. Sungguh penasaran rasanya ingin melihat betapa indahnya di pagi hari. Kebetulan hari itu adalah Minggu, dimana hari Minggu merupakan holiday bagi negara-negara di Eropa. hampir semua toko tutup dan jalanan sungguh sepi. Inilah perbedaan signifikan antara Eropa dan Asia. Di Asia, hari Minggu merupakan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan penjualan sebesar-besarnya karena perkantoran dan sekolah libur, sehingga orang akan berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan dan restoran. Namun di Eropa sebaliknya, Minggu adalah hari dimana semua orang beristirahat, sehingga banyak toko tutup. Jalanan sungguh sepi. Tetapi cafe Aida tetap buka, senangnya... kembali mampir untuk menyeruput hot chocolate faforit. Lovely.
Bangunan di belakang saya adalah Wien Rathaus, juga merupakan land mark kota ini. Baik malam ataupun siang hari, tetap indah dengan kesan yang berbeda.
Sayang sekali waktu yang kami miliki sangat terbatas, otherwise saya rasanya tidak ingin pulang dan tinggal saja di kota ini. What a Magical Vienna! Gonna miss you so much..
Inilah catatan perjalanan saya berjalan-jalan menyusuri dinginnya Vienna di bulan Januari. Pemandangan ini yang terabadikan dalam perjalanan menuju Belvedere, kastil terkenal yang menjadi land mark kota ini.
Kalau memerhatikan jalanan dan bentuk bangunan di kota ini, tidak banyak berbeda dengan kota-kota di Eropa lainnya. Udara saat itu yang cukup ekstrim (menurut saya yang biasa tinggal di daerah tropis) tidak mengurungkan niat saya untuk menikmati keindahan kota ini. Waktu yang ditempuh dari Marriot, hotel dimana kami menginap sampai Istana Belvedere yang akan kami kunjungi, sekitar 15 menit berjalan kaki. Menjadi tantangan yang cukup berat bagi saya dan ketiga teman yang berasal dari Ethiopia, Brasil dan US.
Inilah saya dengan seorang teman asal Ethiopia. Salah satu hal yang menyenangkan dari pekerjaan ini bagi saya, adalah bisa bertemu dengan orang dari seluruh dunia. Biasanya hanya mendengar nama suatu negara dari berita di tv atau pelajaran semasa sekolah dulu, kini saya bisa bertemu langsung dan mendengar cerita tentang budaya dan negaranya.
Seperti yang saya sudah ceritakan di awal, kota yang indah ini membuat perjalanan kami sedikit lama, sebab selalu ingin berfoto di setiap sudut. sungguh indah. Bahkan di pavement ini, saya menyempatkan diri berfoto dengan rekan asal Egypt berkebangsaan American (tengah) dan Brazil (kanan).
Statue yang menjadi background foto saya ini dibuat untuk mengenang para pahlawan mereka yang gugur di medan perang dunia.
Isle bergaya Eropa kuno ini menjadi salah satu objek yang menarik perhatian saya untuk difoto. Mengingatkan saya pada film-film Eropa di pertengahan abad 16 atau 17. Dimana para perempuan masih mengenakan gaun dengan material bertumpuk-tumpuk dan korset extra ketat dengan cantiknya. Berjalan menyusuri koridor ini dengan kipas di tangan sambil tersenyum-senyum menggoda. Hahaha..
Akhirnya sampai juga kami di gerbang Istana Belvedere setalah hampir setengah jam berjalan, padahal waktu yang diperkirakan hanya 15 menit. Tentu disebabkan karena kami berkali-kali berhenti untuk berfoto.
Benar saja ketika memasuki kastil/istana ini, saya terkagum-kagum. Sungguh indah. Begitu indahnya di musim dingin bersalju seperti ini, membuat saya membayangkan betapa indahnya di kala musim panas. Inilah Istana Belvedere.
Sayang sekali hari semakin gelap, dan udara semakin dingin luar biasa. Kamipun memutuskan untuk kembali ke hotel dan makan malam. Di malam hari, kota ini lebih indah lagi. Saya merasa tak sampai hati melewatkan kesempatan untuk berfoto di gemerlapnya Vienna.
Inilah shopping arcade yang ada di arah berlawanan dengan istana Belvedere dari hotel Marriot. Di sepanjang area ini bisa ditemukan berbagai toko pakaian branded dari mulai Zara, Mango, H&M, dan berbagai merek lainnya. Berjalan terus menyusuri pertokoan ini, lalu kami tiba di Town Hall. Sayang sekali kamera saya tidak begitu bisa menangkap keindahan gedung ini. Tapi tentu anda bisa membayangkan betapa indahnya. Inilah istana Cinderella yang selalu hadir dalam khayalan masa kecil saya, dengan kereta kuda dan lain sebagainya. wonderful.
Setelah puas sight-seing, salah satu teman kami mengajak minum cokelat panas di salah satu cafe bernama Aida, berlokasi di pusat perbelanjaan tempat saya berfoto tadi. Oh My God, feel like I want to marry this chocolate!! So goood... Perpaduan cokelat panas dan whip cream yang manis.. susah diungkapkan dengan kata-kata. Luar biasa nikmat...
Dan petualangan kuliner tidak berhenti sampai disana, kami lalu makan malam di sebuah restoran bernama Purstner. Saya memesan makanan ini karena terbuat dari ayam. Sungguh enak, sayang sekali saya lupa nama menunya. Rasanya kurang lebih seperti chicken karage (paha ayam digoreng krispi). Lezat sekali. Setelah makan malam, kami kembali ke hotel dan bersiap untuk berjalan-jalan di hari berikutnya.
Kami harus kembali pulang ke Dubai siang hari esoknya. Namun saking saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati keindahan Vienna, saya bangun pagi sekali dan meneruskan sight-seing ke tempat yang kemarin malam dikunjungi. Sungguh penasaran rasanya ingin melihat betapa indahnya di pagi hari. Kebetulan hari itu adalah Minggu, dimana hari Minggu merupakan holiday bagi negara-negara di Eropa. hampir semua toko tutup dan jalanan sungguh sepi. Inilah perbedaan signifikan antara Eropa dan Asia. Di Asia, hari Minggu merupakan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan penjualan sebesar-besarnya karena perkantoran dan sekolah libur, sehingga orang akan berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan dan restoran. Namun di Eropa sebaliknya, Minggu adalah hari dimana semua orang beristirahat, sehingga banyak toko tutup. Jalanan sungguh sepi. Tetapi cafe Aida tetap buka, senangnya... kembali mampir untuk menyeruput hot chocolate faforit. Lovely.
Bangunan di belakang saya adalah Wien Rathaus, juga merupakan land mark kota ini. Baik malam ataupun siang hari, tetap indah dengan kesan yang berbeda.
Sayang sekali waktu yang kami miliki sangat terbatas, otherwise saya rasanya tidak ingin pulang dan tinggal saja di kota ini. What a Magical Vienna! Gonna miss you so much..














