Sunday, February 20, 2011

Magical Vienna

Satu kata yang terucap dari bibir saya ketika menginjakkan kaki di kota ini adalah "Amazing". Saya merasa hidup di alam mimpi. Seketika teringat cerita Cinderella dengan kereta kudanya, dengan kastil-kastil megah, pesta dansa dan pangeran tampan. Magical.
Inilah catatan perjalanan saya berjalan-jalan menyusuri dinginnya Vienna di bulan Januari. Pemandangan ini yang terabadikan dalam perjalanan menuju Belvedere, kastil terkenal yang menjadi land mark kota ini.
Kalau memerhatikan jalanan dan bentuk bangunan di kota ini, tidak banyak berbeda dengan kota-kota di Eropa lainnya. Udara saat itu yang cukup ekstrim (menurut saya yang biasa tinggal di daerah tropis) tidak mengurungkan niat saya untuk menikmati keindahan kota ini. Waktu yang ditempuh dari Marriot, hotel dimana kami menginap sampai Istana Belvedere yang akan kami kunjungi, sekitar 15 menit berjalan kaki. Menjadi tantangan yang cukup berat bagi saya dan ketiga teman yang berasal dari Ethiopia, Brasil dan US.
Inilah saya dengan seorang teman asal Ethiopia. Salah satu hal yang menyenangkan dari pekerjaan ini bagi saya, adalah bisa bertemu dengan orang dari seluruh dunia. Biasanya hanya mendengar nama suatu negara dari berita di tv atau pelajaran semasa sekolah dulu, kini saya bisa bertemu langsung dan mendengar cerita tentang budaya dan negaranya.


Seperti yang saya sudah ceritakan di awal, kota yang indah ini membuat perjalanan kami sedikit lama, sebab selalu ingin berfoto di setiap sudut. sungguh indah. Bahkan di pavement ini, saya menyempatkan diri berfoto dengan rekan asal Egypt berkebangsaan American (tengah) dan Brazil (kanan).
Statue yang menjadi background foto saya ini dibuat untuk mengenang para pahlawan mereka yang gugur di medan perang dunia.


Isle bergaya Eropa kuno ini menjadi salah satu objek yang menarik perhatian saya untuk difoto. Mengingatkan saya pada film-film Eropa di pertengahan abad 16 atau 17. Dimana para perempuan masih mengenakan gaun dengan material bertumpuk-tumpuk dan korset extra ketat dengan cantiknya. Berjalan menyusuri koridor ini dengan kipas di tangan sambil tersenyum-senyum menggoda. Hahaha..
Akhirnya sampai juga kami di gerbang Istana Belvedere setalah hampir setengah jam berjalan, padahal waktu yang diperkirakan hanya 15 menit. Tentu disebabkan karena kami berkali-kali berhenti untuk berfoto.
Benar saja ketika memasuki kastil/istana ini, saya terkagum-kagum. Sungguh indah. Begitu indahnya di musim dingin bersalju seperti ini, membuat saya membayangkan betapa indahnya di kala musim panas. Inilah Istana Belvedere.




Sayang sekali hari semakin gelap, dan udara semakin dingin luar biasa. Kamipun memutuskan untuk kembali ke hotel dan makan malam. Di malam hari, kota ini lebih indah lagi. Saya merasa tak sampai hati melewatkan kesempatan untuk berfoto di gemerlapnya Vienna.

Inilah shopping arcade yang ada di arah berlawanan dengan istana Belvedere dari hotel Marriot. Di sepanjang area ini bisa ditemukan berbagai toko pakaian branded dari mulai Zara, Mango, H&M, dan berbagai merek lainnya. Berjalan terus menyusuri pertokoan ini, lalu kami tiba di Town Hall. Sayang sekali kamera saya tidak begitu bisa menangkap keindahan gedung ini. Tapi tentu anda bisa membayangkan betapa indahnya. Inilah istana Cinderella yang selalu hadir dalam khayalan masa kecil saya, dengan kereta kuda dan lain sebagainya. wonderful.

Setelah puas sight-seing, salah satu teman kami mengajak minum cokelat panas di salah satu cafe bernama Aida, berlokasi di pusat perbelanjaan tempat saya berfoto tadi. Oh My God, feel like I want to marry this chocolate!! So goood... Perpaduan cokelat panas dan whip cream yang manis.. susah diungkapkan dengan kata-kata. Luar biasa nikmat...
Dan petualangan kuliner tidak berhenti sampai disana, kami lalu makan malam di sebuah restoran bernama Purstner. Saya memesan makanan ini karena terbuat dari ayam. Sungguh enak, sayang sekali saya lupa nama menunya. Rasanya kurang lebih seperti chicken karage (paha ayam digoreng krispi). Lezat sekali. Setelah makan malam, kami kembali ke hotel dan bersiap untuk berjalan-jalan di hari berikutnya.

Kami harus kembali pulang ke Dubai siang hari esoknya. Namun saking saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati keindahan Vienna, saya bangun pagi sekali dan meneruskan sight-seing ke tempat yang kemarin malam dikunjungi. Sungguh penasaran rasanya ingin melihat betapa indahnya di pagi hari. Kebetulan hari itu adalah Minggu, dimana hari Minggu merupakan holiday bagi negara-negara di Eropa. hampir semua toko tutup dan jalanan sungguh sepi. Inilah perbedaan signifikan antara Eropa dan Asia. Di Asia, hari Minggu merupakan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan penjualan sebesar-besarnya karena perkantoran dan sekolah libur, sehingga orang akan berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan dan restoran. Namun di Eropa sebaliknya, Minggu adalah hari dimana semua orang beristirahat, sehingga banyak toko tutup. Jalanan sungguh sepi. Tetapi cafe Aida tetap buka, senangnya... kembali mampir untuk menyeruput hot chocolate faforit. Lovely.





Bangunan di belakang saya adalah Wien Rathaus, juga merupakan land mark kota ini. Baik malam ataupun siang hari, tetap indah dengan kesan yang berbeda.


Sayang sekali waktu yang kami miliki sangat terbatas, otherwise saya rasanya tidak ingin pulang dan tinggal saja di kota ini. What a Magical Vienna! Gonna miss you so much..

Saturday, February 19, 2011

Had fun in Colombo, Sri Lanka

Begitu tiba di hotel, saya agak kecewa. Hotelnya tidak begitu bagus, namun fasilitas standar tersedia, seperti safety box, restaurant dan swimming pool. Lokasinya tidak begitu jauh dari airport, namun sangat jauh dari kota, seperti halnya Bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Namun saya tetap ingin berjalan-jalan melihat kota Colombo considering ini adalah kali pertama saya singgah disitu. Bersama seorang teman asal Korea, kami memulai petualangan dengan memilih Tuktuk (Bajaj) sebagai alat transportasi menuju kota, sebab ongkos taxi dirasa cukup mahal. Dengan Tuktuk, cukup membayar 2000 Rupee kami bisa berjalan-jalan ke kota yang menempuh waktu kurang lebih 40 menit, lalu kembali lagi ke hotel dengan estimasi waktu yang sama.

Beruntung kami mendapatkan supir Tuktuk yang sangat ramah, sampai bersedia meminjamkan tuktuknya untuk dijadikan sebagai objek foto.
Sampai di kota, tempat pertama yang kami kunjungi yaitu Paradise Road. saya kira itu adalah sebuah kawasan seperti di Legian Bali, ternyata Paradise Road adalah nama sebuah toko yang menjual berbagai souvenir khas Sri Lanka yang ekslusif dan memang diperutukkan bagi para turis. disana juga terdapat cafe bagi yang ingin makan atau minum. Pernak pernik yang dijual bermacam-macam, dari mulai kosmetik herbal sampai benda-benda seni seperti pahatan dan patung. Saya tidak terlalu tertarik untuk membelinya karena semua benda tersebut ada di Indonesia, bahkan mungkin lebih beragam dan unik di Indonesia.
Salah satu ciri khas Sri Lanka adalah gajah, ya sama seperti di Thailand. Mungkin karena most of them beragama Budha dan bagi agama terebut gajah dianggap hewan yang sakral. maka banyak dijual pernak pernik dengan gambar atau bentuk gajah. Berikut adalah foto-foto yang saya ambil di Paradise Road.

Setelah puas melihat-lihat pernak-pernik di Paradise Road, kamu melanjutkan perjalanan, masih dengan tuktuk, menuju Ganggarama Temple dan Lake Temple. seperti namanya, Lake Temple berada di atas danau. sejuk sekali berada disana.
sebenarnya kami tidak diperbolehkan berfoto disini, sebab menurut kepercayaan mereka, manusia tidak pantas disandingkan dengan Tuhannya. tapi kami tetap mengambil gambar ini (yeayy!).
Inilah salah satu patung Budha yang ada di dalam Temple. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Lake Temple yang sangat indah dan peaceful. betul-betul tempat yang tepat untuk beribadah.



Betah sekali rasanya berada di Lake Temple. tetapi saya tidak bisa berlama-lama disana. dan tibalah di akhir perjalanan. saya ingatkan jika anda mampir ke Colombo, jangan lupa untuk membeli teh Ceylon Mlesna. Teh terenak yang pernah saya rasakan sampai saat ini. Harganya tidak mahal, but believe me its really really good. ada beragam rasa, faforit saya adalah Vanilla Tea.Teh ini juga cocok untuk oleh-oleh karena kemasannya yang unik.

Jalan-jalan, mempelajari sejarah, dan belanja oleh-oleh. Lengkap sudah perjalanan. Saatnya kembali ke hotel untuk bersiap-siap pulang ke Dubai. Berhubung masih baru pakai seragam, coba foto-foto dulu boleh dong..