Today I learned something. I realized that a relationship is not a noun, it’s a verb. Selama ini saya berusaha untuk mengerti apakah itu sebuah hubungan diantara dua orang yang saling menyayangi. In fact, I had an 8 years relationship before, but never know what it was exactly. I will be 25 years old by next month, and now I’m dating a 39 years old guy who is way mature than me. For the first time in my life, I am able to listening to someone. Not only because of he is smart. But also because of he is always give me the reasons and answers to all my doubts and questions. And most of all, I respect him.
Respect. One thing that I could rarely feel for the guys I’ve known before. This is the first time I’m dating an older guy. Before, I believed that age doesn’t really matter in a relationship. That opinion was wrong. It does matter. Saya langsung ingat, mungkin Anda juga ingat, waktu kita masih kecil atau terlebih saat remaja, ada saat dimana kita membenci orang tua kita hanya karena mereka melarang kita untuk bermain dengan seorang teman yang nakal. Atau orang tua kita melarang kita memakai pakaian tertentu, dan memberikan kita jam malam. Ketika itu kita berdalih, Mama atau Papa sangat kolot dan kuno, mereka tidak tau bagaimana cara bersenang-senang, seperti yang tidak pernah muda saja. Lalu beberapa (belas) tahun kemudian kita mengerti mengapa mereka memberlakukan peraturan itu. mengapa mereka selalu berkata, kamu tidak tau apa-apa Nak, kami sudah makan asam-garam. Mereka mungkin bukan lulusan master atau bahkan sarjana, tetapi mereka sudah hidup lebih lama dari kita. Itulah mengapa. Mereka unggul dalam pengalaman.
Sama halnya seperti kita berhubungan dengan pasangan yang lebih tua dari kita. Belum tentu dia lebih pintar dan dewasa dari kita. Namun pasti banyak hal yang bisa kita pelajari dari dia karena pengalamannya. Bukan hal yang dengan sengaja ingin dia ketahui, seperti pelajaran di sekolah, tapi karena alam mendidiknya. So yes, age does matter.
He told me once, you are much younger than me, but I never look down on you. In your shorter time period of live, you have gained things pretty much as much as I have. On the other way around, he respects me as well. Bukan umur saya, tetapi karena apa yang sudah saya dapatkan di umur sekian. Menurutnya, dia berjalan normal selama ini dan saya berlari. Mungkin benar menurut dia, apa yang sudah saya dapatkan (pengalaman) sejauh ini dalam hidup, bukanlah hal yang sewajarnya dialami oleh perempuan sebaya saya. Dengan begitu dia menghormati saya. Usia dalam sebuah hubungan bukalah angka, tetapi pengalaman. Jadi usia itu memang berpengaruh, tetapi selalu ada jalan untuk menjembataninya. Yaitu dengan pengalaman dan pengertian.
Bukanlah hal yang mudah, saya tau. Bukan juga sesuatu yang bisa kita pelajari di buku atau sekolah. So I was clueless, girls. Sejak pertama mengenal dia, saya terus berpikir dan berpikir. Setiap pemikiran diawali dengan, bagaimana kalau.. what if.. what if.. it was exhausting. Then I decided to stop thinking. Just do. Awalnya saya tertarik pada kharisma, perhatian dan kebaikannya. Normal. Semua perempuan pasti akan merasakan hal yang sama jika diperlakukan demikian. The thing is I was so doubtful. Ketika itu saya katakan langsung pada dia, that I am not ready for a relationship. He was cool. He said ok, I don’t want to push you. And that was the correct answer for me. The minute he said that, the more I gave him chances to get to know me. And not only gave him a chance, I gave myself a chance too. I didn’t think that time. Just do it. I let him contacts me every day. Picks me up from work, drops me off to work, and takes me out for dinner, meeting friends, and eventually have a holiday together.
Adalah salah satu liburan terbaik selama hidup saya, ketika kami memutuskan untuk mengunjungi kampung halamannya. Bukan hal yang direncanakan dengan matang, malah sebuah kebetulan yang menyenangkan. Saya berencana untuk mengunjungi teman yang sedang bersekolah di negara yang sama dengan negara asalnya. Dan desa dimana orang tuanya tinggal ternyata dekat dengan tempat tinggal teman saya. Believe me girls, it was serendipity. And it was amazing.
Inilah yang membuat saya merasa tertarik pada sosoknya. Girls, I think I’m in love with his figure. He is such a family man. Dia sangat berbeda dengan dia yang saya kenal di Dubai, kota dimana kami tinggal dengan pekerjaan yang berbeda. Mungkin juga karena Dubai jauh berbeda dengan Deil, sebuah desa yang nyaman dan indah di Belanda, baik alam, gaya hidup, maupun orang-orang yang hidup disana. Saya melihat dia begitu tenang, begitupun saya. Kami mengunjungi teman-teman dan keluarganya. Saya sangat menikmati itu. saya merasa seperti sedang bermain peran. Suatu hari saya bisa menjadi perempuan single yang berjuang untuk hidup, penikmat traveling, dan kali ini saya tiba-tiba berada di tengah-tengah keluarga Belanda-Indonesia yang ramah dan hangat, di sebuah rumah yang indah dengan halaman belakang dan kebun apel yang terbentang luas seolah tak berbatas.
Most of all, I love his daughter. Yes, call me crazy, girls. This is the first time in my life to have a relationship with a man with a daughter. He divorced. Don’t get me wrong. And they have this beautiful five years old daughter who lives with her Mom. Tujuan utama dia pulang kampung setiap dua bulan sekali adalah untuk mengunjungi anaknya dan memenuhi peranannya sebagai seorang ayah. For me, that is so sexy. So we picked her up from school and brought her to his parent’s house where we were staying at. She doesn’t speak English or Indonesian. But somehow we could understand each other. Lucu, namun begitulah adanya. Basically, saya sangat menyukai anak-anak, dan dia adalah anak yang sangat supel dan periang. Tidak sulit bagi kami untuk saling menyukai.
Sering saya merasa mungkin Tuhan sudah menyiapkan semua ini bagi saya. Banyak saya dengar cerita tentang teman yang berpacaran dengan lelaki yang sudah pernah menikah lalu bercerai dan mereka mempunyai anak. Sebagian dari mereka bisa get along dengan anaknya, banyak juga yang sulit diterima. Bukan hanya oleh anaknya, terlebih oleh keluarganya. Bagi saya dan kebanyakan orang Asia, keluarga adalah entitas terpenting dalam kehidupan. Sehingga penting bagi saya untuk bisa mingle dengan keluarga pasangan saya. Sebab setiap hubugan akan berjalan ke tahap yang lebih serius, yaitu pernikahan. Tanpa kita rencanakan mungkin kita akan berjalan kesana. Sadar atau tidak. Membuat saya semakin tidak percaya. Dengan keluhan dari beberapa teman yang tidak disukai oleh anak pasangannya, saya bisa akrab dengan anaknya. This is just too good to be true.
Dalam satu waktu saya punya semuanya. Pasangan, keluarga, dan anak. Dengan segala passion dan impian saya dalam hidup yang masih ingin saya wujudkan, dialah pasangan yang tepat untuk saya pada saat ini. Kenyataan bahwa dia sudah memiliki anak membuat saya tenang sebab dia tidak akan memaksa saya untuk menikahinya dan memberikannya anak, because he already has one. Pandangan seperti ini tidak lazim, ya saya mengerti. Lahir dan besar di negara Asia tepatnya Indonesia yang memiliki banyak aturan-aturan sosial yang terkadang tidak masuk akal, membuat saya sempat hampir menjadi salah satu dari “korban sosial” seperti kebanyakan orang Indonesia. Termasuk mungkin orang tua saya.
Bekerja di luar negeri dan berkesempatan mengunjungi hampir semua negara di belahan dunia lain membuka cakrawala berpikir saya seluas-luasnya. Kalau selama ini saya hanya membacanya dari buku atau mendengar pengalaman orang lain, kini saya alami sendiri. Sehingga penilaian ini saya anggap akurat. Sebab saya melihat, mendengar, dan mengalami semuanya. Girls, ternyata banyak hal yang aneh dalam budaya kita. Tidak ada yang salah. Tidak ada budaya yang baik atau buruk, yang ada hanyalah sesuai atau tidak sesuai bagi orang-orang yang hidup dalam sistem dan lingkungan sosial tersebut.
Memacari atau berhubungan, terlebih lagi menikah dengan seseorang yang pernah menikah sebelumnya (lalu bercerai) adalah hal yang sangat tidak lazim di Indonesia. I mean, it does happen, but it’s not something that you have to be proud of. Bahkan beberapa orang menganggapnya aib. Kebanyakan menyayangkan bila mendengar keluarganya mengalami hal demikian. Bagi orang tua, hal ini juga menjadi sebuah pukulan atau bukanlah hal yang patut dibanggakan. Ini tidak salah, hanya aneh bagi saya. Bukankah semua orang punya hak yang sama dalam berhubungan dengan siapapun?
Bisa dibayangkan, sekarang saya mengencani lelaki ini, dengan embel-embel sebagai berikut: berusia jauh lebih tua dari saya, lahir dan besar di Eropa, sudah pernah menikah, dan punya seorang anak. Kalau di Indonesia saya pasti sudah mengalami berbagai tekanan. Terlalu banyak aturan sosial dalam budaya kita yang kadang membuat saya tak habis pikir. Terkadang terlalu kejam. Mengatasnamakan kebahagiaan dan kehormatan keluarga, banyak hati tersakiti. Bukankah kita tidak seharusnya mengatur kebahagiaan orang lain? Bukankah kita sepatutnya mendukung apapun yang membuat seseorang yang kita sayangi bahagia? Bayangkan mereka yang baru menikah dan belum dikaruniai anak, setahun kemudian keadaan tetap sama, lalu semua orang mulai menananyakan, kapan punya momongan? Sementara pasangan ini berusaha keras dan juga sangat menginginkannya, tetapi tidak ada yang berubah, sang momongan masih belum terlahir ke dunia. Apa yang harus dilakukannya?
Mungkin banyak dari kita yang tidak sadar kalau hal itu menyakitkan bagi pasangan ini. Tetapi tentu hal ini adalah lazim di dalam budaya kita. Sejak kecil sayapun dididik untuk mengerti bahwa tujuan dari pernikahan adalah memiliki anak dan membesarkannya. Tanpa peduli apakah hal itu akan membuat saya lebih bahagia atau tidak. Sehingga stigma yang terpelihara dalam sebuah lembaga pernikahan di Indonesia adalah end of the world. Highest stage and that’s it. Setelah menikah, seorang perempuan tidak bisa lagi bertindak leluasa terhadap karir dan impiannya. Ya, saya bicara sebagai perempuan dan melihat dari kacamata perempuan.
Sungguh saya salut dan mengagumi mereka yang memutuskan untuk menikah di usia muda dan segera memiliki anak. Betapa tidak, anak adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Sayapun berharap suatu saat nanti bisa memilikinya, mungkin satu atau dua. Anyway, ibu saya menikah di usia sangat muda namun normal pada saat itu, 20 tahun. Saya sama sekali tidak bisa membayangkan menjadi istri di usia yang begitu belia, dan di usia saya beliau sudah memiliki dua anak, saya dan kakak laki-laki saya. Saya mengidolakannya untuk itu. terima kasih yang tak terhenti dan terkira untuk beliau, dan cinta terbesar saya untuknya dan juga ayah yang telah membesarkan saya. Namun, itulah hidup mereka. Dunia berputar, bumi semakin dewasa, dan kehidupan sudah banyak berubah. Tidak bisa lagi kita anggap hari ini sama seperti tiga puluh tahun yang lalu. Bagaimanapun kenyataan, pendidikan dan pengalaman telah mendewasakan saya dan pemikiran saya, dan saya anggap wajar kalau pandangan saya tentang sebuah hubungan, pernikahan dan banyak hal lainnya berbeda dengan pandangan orang tua saya. Saya tidak memaksa mereka untuk mengerti, hanya berharap semoga mereka juga tidak memaksa saya untuk mengerti jalan pikirannya. Memiliki pandangan yang berbeda sama sekali tidak akan merubah kasih sayang saya kepada keduanya.
Bagaimanapun saya hidup dan terdidik dengan pemikiran dan pandagan-pandangan tersebut, sehingga banyak hal yang secara sadar maupun tidak sadar melembaga dalam diri saya. Tentu ada yang positif dan juga yang negatif.
Saya tau betul resiko dari keputusan saya. Ketika saya berkata pada diri saya sendiri untuk mencobanya, selalu ada dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Kegagalan bukanlah ketakutan saya, tetapi bagaimana kalau ini berhasil? Maka saya harus berjuang menembus segala tameng budaya yang terbentang diantara kita. Dari usia sampai fakta bahwa dia sudah memiliki seorang anak. Hal yang rasanya tidak perlu saya pikirkan sekarang. Untuk apa kita bersusah payah memikirkan hal yang belum terjadi sementara yang terjadi sekarang begitu menyenangkan? Dulu saya adalah orang yang selalu berpikir. Saya tidak pernah berhenti berpikir, sampai tidurpun sepertinya saya masih suka memikirkan sesuatu. Hasilnya? Lelah. Dan saya sering lupa untuk menikmati apa yang saya punya saat ini. Ketika isi kepala saya hanyalah penyesalan akan kesalahan yang saya buat di masa lalu dan berpikir keras bagaimana hari esok harus saya jalani untuk memperbaiki kesalahan yang lalu. Kini saya coba tetapkan pada porsinya. Pikirkan masa lalu, itu penting. Sebagai pelajaran. Merancang masa depan, tentunya. Namun terlebih lagi, saya harus bisa mensyukuri hari ini, menikmatinya dan melakukan yang terbaik sehingga esok hari saya tak perlu memikirkan masa lalu sebab semua berjalan dengan indah.
Banyak orang yang tidak mau mengakui kalau sebuah hubungan adalah trial and error. Kenapa tidak? Kalau memang begitu adanya. Seperti yang sudah saya uraikan sebelumnya, ketika saya memutuskan untuk memulainya, saya sadar ada dua kemungkinan yaitu berhasil atau gagal. Saya coba, dan kalau gagal, itulah error. Evaluasi, lalu lakukan perbaikan. Ya, saya tau tidaklah semudah itu. kita manusia bukanlah mesin, yang bisa mudah di hard-reset jika ada sesuatu yang tidak beres. Kita manusia bukanlah computer yang jika sudah kehilangan suatu komponen bisa digantikan dengan membelinya di toko. Tapi saya akui kalau setiap hubungan adalah trial and error.
Ada kalanya, mungkin ketika saya masih dalam usia remaja awal, saya berpikir seperti Cinderella. Suatu saat pangeran saya akan datang dengan kuda putihnya dan membawa saya untuk hidup di istana, bahagia selamanya. Tamat. Lalu kehidupan mengajarkan dan memperlihatkan saya kalau, heloo.. hidup ini bukanlah cerita dalam buku dongeng. Memikirkan statistik saja sudah membuat risau, akankah saya bertemu dengan jodoh saya? Kalau melihat kenyataan di sekolah, setiap kelas pasti memiliki populasi perempuan yang lebih banyak dari laki-laki. Kalau dibagi rata saja, banyak perempuan yang tidak mendapat pasangan dari lawan jenisnya. Saya yakin ini juga jadi pemikiran orang tua kita yang sangat khawatir anak perempuannya sulit dapat jodoh, atau tidak berjodoh sama sekali. Sehingga wajar kalau perempuan Indonesia banyak diajarkan untuk menjadi “nomor dua” setelah laki-laki, for the sake of mudah dapat jodoh. Jadilah istri yang penurut kelak, maka akan bahagia. Menjadi pasangan dari seorang laki-laki seolah berkorban. Apakah betul?
Saya tidak bisa jawab sekarang. At this point, saya (sedang) merasa benar. benar karena perasaan ini membuat saya nyaman. Dengan berbagai perbedaaan diantara saya dan dia, saya juga merasa tertantang untuk menjalaninya. Akankah saya bisa? Akankah dia bisa?
Ok, mari kita berhenti disini. Saya sudah sepakat dengan diri saya untuk tidak terlalu banyak berpikir, tapi melakukan. Action speaks louder than words. Of course, I strongly believe so. Sejak pertama kami keluar untuk makan malam, terlihat jelas apa tujuan dia mendekati saya, but we didn’t talk about it. Actually I didn’t want to talk about it. Kemungkinan terbesar karena saya masih takut dan tidak terbiasa untuk hubungan baru. Dia dengan sabarnya menunggu saya, mengerti emosi saya yang sangat fluktuatif, dan keragu-raguan saya.
So many times I tried to resist, but eventually I admit it. We talk every day; go out whenever it’s possible, share stories about our past, our values, and the way we see things. We introduce our friends, family, culture and our job to each other. Maybe we are building something. Something that we or I have never thinks that it will work between us. A relationship.