Saturday, September 4, 2010

Tanzania, my first layover flight

Layover (menginap di kota tujuan) adalah hal yang sangat menyenangkan bagi para cabin crew. Betapa tidak, inilah saat dimana kami bisa mengunjungi daerah-daerah wisata dan jika beruntung bisa berbelanja dan membeli oleh-oleh produk khas daerah tertentu. Layover pertama saya yaitu ke Dar Es Salam, Tanzania. Meskipun bukan salah satu kota besar dunia, saya tetap merasa exited karena ini adalah pengalaman pertama saya menginap di kota tujuan. Beberapa kolega mengingatkan kalau disana saya harus berhati-hati karena bagaimanapun Africa terkenal dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Seorang SFS (Senior Flight Attendant) mengingatkan kami para cabin crew untuk tetap di hotel agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Tetapi saya dan seorang teman dari Serbia merasa penasaran dan ingin melihat-lihat di sekitaran hotel, sebab ini adalah perjalanan layover pertama dia juga.

Ketika SFS mengingatkan saya untuk berhati-hati, saya menimpali "I'll be fine, I've been living in Indonesia for 24 years and i survived, so i"ll survived in Africa." Hahaha.. bukannya nyeleneh, tetapi orang-orang Eropa dan America tampaknya terlalu khawatir dengan kriminalitas di negara dunia ketiga. Memang betul kita harus berhati-hati dan mawas diri, tetapi saya yakin tidak semua penduduk dunia ketiga merupakan kriminal. Yang terpentin adalah kita bisa bersikap sopan sekaligus asertif dan waspada dimanapun kita berada, even itu di US sekalipun.

Akhirnya kami keluar dari hotel dan berjalan-jalan sebentar hanya ingin melihat bagaimana penduduk setempat menjalani kehidupan sehari-harinya. Kami berniat ke tarditional market untuk membeli souvenir, tetapi ternyata cukup jauh dari hotel dan kami memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat di swimming pool. Sepanjang perjalanan para penduduk ramah menyapa dan seorang wanita lokal menunjukkan arah pasar pada kami dengan ramah, Namun juga ditemui beberapa anak yang mengemis, mengingatkan saya pada Jakarta. Yah, begitulah pemandangan yang lazim di negara yang masih berkembang.

Beruntung saya stay di Kilimanjaro Kempinski Hotel, hotel yang sangat bagus dengan pemandangan yang indah. Dari kamar saya, dapat dilihat pemandangan harbor dan menjadi sangat cantik dipandang ketika malam. Saya sempat mengabadikan pemandangan sore harinya.

Hotel ini sangat saya rekomendasikan bagi Anda yang ingin berkunjung dan berlibur ke Tanzania. Yang sangat saya suka dalah kamar mandinya, hanya dipisahkan oleh partisi dari kaca dengan ruang tidur. Jadi kita bisa berendam di bath tub sambil melihat pemandangan ini.
Swimming pool-nya juga sangat bagus, kalaupun tidak berenang, bisa bersantai membaca buku atau mendengarkan musik sambil bersantai by the pool.

Bicara tentang alam di Africa, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Asia. Saya merasa seperti di daerah Anyer, Banten. Ketika itu juga sedang agak mendung. Anyway, saya betul-betul senang dengan hotel ini. Di malam hari, kita bisa bersantai di resto outdoor-nya, bershisha dan memesan berbagai jenis minuman, dari kopi sampai wine.
Tetapi hati-hati, saking asyiknya duduk-duduk disini, sampai-sampai saya tidak sadar mendapatkan gigitan nyamuk banyak sekali. Saya sarankan sebelum bersantai disini baiknya mengoleskan lotion anti-nyamuk di daerah kaki dan tangan agar tidak tergigit nyamuk, sebab bekas gigitannya masih bertahan sampai 3 hari!
Ya, mungkin badan saya tidak terbiasa dengan gigitan nyamuk Africa. hehehe..
Seperti inilah salah satu bangunan milik pemerintah di Dar Er Salam, Tanzania. Ini adalah pengadilan daerah tersebut. Bangunan-bangunan disini tidak memiliki ciri khas tertentu, seperti halnya bangunan yang ditemui di Indonesia dan negara-negara iklim tropis lainnya. Seperti inilah Tanzania.

New life in Dubai

It's been almost 3 months in Dubai. Menjalani profesi baru menjadi cabin crew di Emirates Airline, salah satu airline terbaik di dunia,bisa dibilang mimpi yang menjadi kenyataan. Semenjak kecil, saya selalu bermimpi untuk bisa mengelilingi dunia. Bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara, berteman dan mempelajari budaya mereka serta tentu saja mengunjungi tempat-tempat baru yang belum pernah saya singgahi sebelumnya akan menjadi pengalaman yang luar biasa dalam hidup saya.

Lahir dan besar di negara Indonesia yang terdiri dari 33 provinsi dan memiliki banyak sekali suku bangsa dan bahasa menjadi bekal saya menjalani kehidupan baru disini. Dubai, salah satu emirate di United Arab Emirates (UAE) ternyata adalah kota yang begitu ragam dengan kebangsaan. Sehingga tidak sulit untuk saya bisa beradaptasi dengan perbedaan. Penduduk di kota hampir 80%-nya adalah pendatang dan sisanya adalah penduduk lokal yang beragama Islam. Bersyukur pertama tiba di akomodasi yang disediakan perusahaan di daerah Al-Nahda II, terdapat sebuah mesjid besar berlokasi sekitar 50 meter dari tempat tinggal, sehingga saya bisa mendengar adzan 5 kali dalam sehari, membuat hati nyaman dan merasa seperti di rumah
Dubai adalah surga belanja. Mall-mall besar dan megah dengan tenant-tenant berkelas dari seluruh dunia ada disini. Favorit saya adalah Dubai Mall dan Mall of Emirates. Dubai Mall tentu menjadi kegemaran untuk didatangi karena pertunjukan Dubai Fountain yang luar biasa indah, which happens to be the biggest fountain in the world, so far.
Dubai Fountain ini bisa disaksikan setiap hari mulai pukul 7 malam.Dari sini juga kita bisa melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit dan the famous Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia yang terdiri dari 800an lantai.

Daerah yang paling terkenal di Dubai adalah Jumeirah dan Marina. Ada sebuah mesjid yang terkenal karena menjadi pusat kajian budaya Islamm yaitu Mesjid Jumeirah. Para pendatang biasanya diajak tour ke mesjid ini untuk diberi pengetahuan dan gambaran basic mengenai Islam dan Arab culture. Tidak terlalu sulit bagi saya untuk menyesuaikan diri dengan lifestyle penduduk lokal Dubai, sebab saya adalah seorang Muslim dan berasal dari Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Perbedaan yang signifikan hanya mungkin pada pakaian Muslim yang dikenakan. Di UAE, wanita Muslim mengenakan Abaya, pakaian terusan seperti gamis berwarna hitam, dan pria Muslim mengenakan Dishdash, pakaian terusan berwarna putih dan dikepalanya dililitkan sorban. Hal ini diakui penduduk UAE bukanlah syariat Islam, melainkan budaya masyarakat setempat, sebagai tindakan logis karena suhu udara yang panas, dan pakaian tersebut dinilai dapat membuat nyaman yang mengenakannya.

Tempat tinggal saya memang cukup jauh dari pusat kota, di perbatasan Dubai dan Sharjah (salah satu emirate di UAE). Namun transportasi disini sangat memadai sehingga tidak sulit untuk bepergian. Saya biasa menggunakan jasa transportasi perusahaan sampai ke Head Quarters (HQ) lalu melanjutkan dengan menggunakan jasa Dubai Metro (monorail) cukup dengan mengisi ulang kartu elektronik sebagai alat pembayaran (tiket). Harganya sangat rasional dan fasilitasnya sungguh modern dan jika dibandingkan dengan KRL di Jakarta sungguh berbeda jauh. Dubai betul-betul dirancang untuk menjadi The 21st Century City.


Hal yang menjadi perhatian saya adalah dengan kecanggihan teknologi dan sebagainya, Dubai tetap menghargai sejarahnya. Sungguh patut dicontoh oleh Indonesia. Kunjungan pertama saya begitu tiba di Dubai adalah Dubai Museum. Musem yang apik dan menarik ini dapat memberikan kita gambaran dan informasi mengenai bagaimana kota ini terbentuk dan berdiri dengan megahnya hingga hari ini.


Inilah saya bersama dua orang teman yang juga berasal dari Indonesia. Kami begitu menikmati tour ke Dubai Museum ini, sungguh pengalaman yang menyenangkan. Dan tentu saja tak lupa kami diperkenalkan pada bangunan yang menjadi landmark kota Dubai, Burj Al-Arab.